Mengapa Negara Demokratis Lahirkan Gerakan Separatis?

Oleh: Yuke Octavianty

(Komunitas Pejuang Pena Dakwah) 

 

Lensa Media News – Tenaga kerja kesehatan adalah garda terdepan penjaga dan pemelihara kesehatan bagi seluruh warga suatu negara. Tanpa tenaga kesehatan, tentu melumpuhkan kehidupan suatu negara. Belum lama, telah terjadi penyerangan terhadap sejumlah tenaga kesehatan di Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang, Papua pada tanggal 13 September 2021 (beritasatu.com, 19/9/2021). Penyerangan tersebut dilakukan oleh kelompok kriminal bersenjata di Distrik Kiwirok, Pegunungan Bintang, Papua. Kelompok KKB Papua melakukan pembakaran beberapa fasilitas umum, yaitu puskesmas, bank dan sekolah. Akibatnya ada dua tenaga kesehatan hilang dan akhirnya ditemukan warga di dasar jurang pada hari Rabu, 15 September 2021 (CNNIndonesia.com, 16/9/2021). Korban pertama ditemukan masih hidup, sedangkan korban lainnya ditemukan tewas (CNNIndonesia.com, 16/9/2021).

Perlakuan tak manusiawi ini tak bisa dibiarkan begitu saja. IDI (Ikatan Dokter Indonesia) wilayah Papua mengecam tragedi tersebut dan meminta jaminan keamanan dan keselamatan tenaga kesehatan di seluruh Papua (detiknews.com, 17/9/2021). Anggota Komisi IX DPR RI Dr. Hj. Netty Prasetiyani Heryawan, M.Si menyatakan bahwa kasus ini harus diusut tuntas (mediaumatnews.com, 21/9/2021). Netty juga menyebutkan bahwa tenaga kesehatan dan fasilitas kesehatan merupakan himpunan terlarang tersentuh konflik. Apalagi yang lokasinya terpencil di pegunungan Papua. Tentu para tenaga kesehatan harus memiliki jaminan perlindungan penuh dari negara.

Timbulnya gerakan separatis tentu mengisyaratkan keadaan tak sehat dalam kedaulatan negeri. Masalah kompleks negeri Papua, yang kaya akan sumber daya. Kekayaan ini melahirkan kekecewaan yang nyata bagi rakyat Papua. Apa hal? Rakyat Papua sama sekali tak mengecap nikmatnya kekayaan yang dimiliki. Kekayaan yang melimpah ini jatuh pada tangan-tangan tak bertanggung jawab yang hanya inginkan manfaat. Tak heran, muncul kaum separatis yang menghendaki “perceraian” dengan kedaulatan negeri.

Serangan kelompok kriminal bersenjata berulang kali terjadi. Hal ini seharusnya menjadi pelajaran berharga bagi para pemegang kebijakan untuk dapat menindak tegas kaum separatis. Kelompok yang jelas mengganggu keamanan publik dan berbahaya bagi kedaulatan negara. Apalagi saat ini yang terjadi adalah serangan terhadap para tenaga kesehatan. Garda terdepan penyelamat nyawa umat.

Negara demokratis yang digadang-gadang mengutamakan aspirasi rakyat ternyata hanya bualan semata. Saat pengelolaan sumber daya berpihak pada para pemegang modal dan pemegang kebijakan, tentu semuanya hanya berlandaskan asas manfaat rasa penguasa. Manfaat hanya untuk segelintir kelompok yang berkepentingan. Bukan pada pemanfaatan untuk maslahat umat. Inilah biang munculnya gerakan separatis. Dengan kata lain, sistem kapitalistik merupakan pintu lebar bagi masuknya benih disintegrasi. Karena sistem kapitalistik-lah yang melahirkan ketidakadilan dan ketimpangan sosial dalam bermasyarakat.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman yang artinya:

Katakanlah (Muhammad), Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahwa Allah tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS. Ali ‘Imran 3: 32).

Syariat Islam merupakan kumpulan aturan yang diturunkan Allah SWT. Kaum muslimin wajib menaati seluruh syariat Islam tanpa memilah-milah. Dengan sepasrah-pasrahnya ketaatan. Demi keselamatannya di dunia dan akhirat.

Syariat Islam juga mengatur sistem kehidupan. Sistem Islam mewajibkan negara menjamin seluruh kebutuhan rakyatnya. Mulai sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan serta keamanan tiap nyawa umat. Sehingga kesejahteraan dapat merata, karena pengelolaan sumber daya yang adil dan bijaksana oleh para pemimpin amanah yang penuh iman dan takwa. Wajar saja, sistem shahih ini me-nihil-kan benih disintegrasi dalam suatu tatanan negara. Karena semua umat merasakan nikmatnya keadilan dalam pengelolaan kekayaan sumberdaya.

Begitu banyak pelajaran yang digoreskan oleh para pejabat amanah yang kental dengan keimanan dan ketakwaannya dalam sistem Islam (baca: Kekhilafahan). Salah satunya adalah cara Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang hanya perlu waktu 2 tahun dan 137 hari untuk memimpin dan membuat rakyatnya sejahtera. Padahal saat itu tambang minyak belum dieksplorasi. Kesejahteraan yang tercurah dari langit dan bumi karena rida Ilahi Rabbi.

Jayanya Islam pasti akan gemilang kembali. Kini, saatnya perjuangkan penerapan syariat Islam dan menegakkannya dalam sistem yang shahih.

Wallahu a’lam bisshowwab.

 

[el/LM]

Please follow and like us:

Tentang Penulis