Sulitnya Penerapan Karantina pada Sistem Demokrasi

Oleh : Siti Muksodah

 

Lensa Media News – Hampir satu tahun wabah virus corona di negeri ini belum menemukan titik terang kapan akan usai. Semakin hari kasus positif corona semakin bertambah. Bagi masyarakat yang meninggal di masa pandemi ini akan langsung digolongkan dalam kematian terjangkit corona oleh rumah sakit. Seringnya pasien datang ke rumah sakit untuk periksa kemudian dirawat, setelah beberapa hari penyakitnya tidak kunjung sembuh dan akhirnya meninggal dengan katagori terjangkit corona.

Kematian adalah rahasia hidup yang maha kuasa, kematian itu pasti. Tidak ada yang bisa menghindari ajal itu sendiri. Namun, mencegah agar virus itu tidak menyebar merupakan bentuk ikhtiar yang bisa dilakukan oleh manusia dengan cara yang telah dicontohkan oleh para sahabat terdahulu.

Di zaman sahabat pernah terjadi wabah penyakit menular yaitu kusta dan saat itu dilakukan isolasi atau lockdown yang memiliki tujuan agar wabah tidak menular ke wilayah lain seperti sabda Nabi “ Jika kamu mendengar wabah disuatu wilayah, maka janganlah kalian memasukinya. Tapi jika terjadi ditempat kamu berada, maka janganlah tinggalkan tempat itu.” (HR. Bukhari).

Walaupun kasusnya berbeda setidaknya hal yang dilakukan agar wabah itu tidak menyebar luas dan bisa terselesaikan sampai akarnya perlu diterapkan diantaranya:
1. Tidak mendatangi tempat yang terkena wabah
2. Melakukan lockdown/isolasi
3. Menemukan obatnya.

Pemerintah DKI Jakarta akan meniadakan isolasi mandiri khusus bagi pasien positif Covid-19 bergejala ringan dan orang tanpa gejala (OTG). Mereka harus menjalani isolasi di tempat yang disediakan pemerintah, baik rumah sakit, Wisma Atlet dan lokasi lainnya.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan, pihaknya tengah menggodok aturan untuk mengisolasi orang di tempat milik pemerintah. “Sedang disiapkan regulasinya bahwa isolasi mandiri itu dikelola oleh pemerintah sehingga lebih efektif dalam memutus mata rantai Covid-19,” kata Anies dalam rekaman suara yang diberikan Humas DKI, Selasa, 1 September 2020.

Menurut dia, tidak semua orang yang terinfeksi Virus Corona dapat mengisolasi diri dengan baik di rumah. Anies ragu pasien bisa disiplin dan memiliki pengetahuan yang cukup tentang protokol kesehatan selama isolasi.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah dalam menangulangi virus corona, seperti melakukan lockdown, jaga jarak dan pemakain masker. Namun, upaya tersebut tidak dapat mengurangi penurunan kasus corona. Justru sebaliknya kasus semakin bertambah dan banyak masyarakat yang meninggal akibat virus tersebut.

Menerapkan isolasi di dalam sistem demokrasi bagaikan mimpi yang tidak akan pernah menjadi nyata dikarenakan banyak sekali pertimbangan yang dikaji berulang-ulang, akhirnya tidak menemukan titik terang, bukannya memberikan solusi yang terbaik justru semakin banyak korban yang meninggal diakibatkan virus tersebut.

Demokrasi buatan manusia, lahir dari pemikiran manusia. Apapun bentuk pemikiran yang dilahirkan atau diciptakan oleh manuasia akan mengalami kegagalan. Demokrasi bagian dari sistem kapitalisme, dimana sistem ini lahir dari ketidakpuasan manusia. Hampir 100 tahun sistem kapitalisme diterapkan, kenyataannya tidak memberikan kesejahteraan dunia.

Kembali ke sistem Islam merupakan kewajiban yang tidak bisa ditinggalkan. Islam merupakan satu-satunya solusi dalam menyelesaikan masalah yang terjadi. Solusi yang diberikan sesuai dengan Alquran dan Hadis Nabi. Salah satu contoh ketika ada wabah.

Negara akan melakukan lockdown pada negeri yang terkena wabah, memberikan bantuan logistik, memfasilitasi kesehatan (mendorong dan membiayai para ahli kesehatan utuk menemukan obat dan vaksin), memberikan bantuan dana yang bersumber dari SDA yang ada dan baitul maal. Individu, masyarakat dan negara bersatu dalam menyelesaikan wabah agar kehidupan kembali normal. Sehingga tidak ada lagi masyarakat yang meninggal akibat terjangkit virus tersebut.

Wallhu a’lam bish shawab.

 

[ry/LM]

Please follow and like us: