Prediksi Food and Agriculture Organization (FAO) akan terjadinya krisis pangan di masa pendemi menjadi hantu yang menakutkan bagi negeri ini. Untuk itu presiden Jokowi memperingatkan kepada jajaran menteri Kabinet Indonesia Maju akan kemungkinan terjadinya krisis pangan tersebut. Sehingga para menteri merencanakan pembangunan lumbung pangan nasional pertama yang rencananya akan berlokasi di Kalimantan Tengah. (5/7/2020)

Namun, rencana tersebut menuai kritikan dari berbagai pihak. Salah satunya dari pengamat pertanian sekaligus guru Besar Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB) yang mengatakan bahwa proyek lumbung pangan selalu berakhir pada kegagalan. Sebagaimana pada masa kepemimpinan periode lalu yang pasalnya pembangunan lumbung pangan hanya sebatas wacana.

Seyogianya, pemerintah bertindak cepat dalam memberi solusi mengatasi krisis pangan yang kemungkinan akan terjadi dengan adanya tindakan nyata. Sebagaimana Islam dalam mengatasi krisis pangan. Negara memanfaatkan SDA yang melimpah, menghidupkan lahan-lahan kosong dengan memberikan kepada para petani yang siap mengolah tanah tersebut untuk ditanami, serta memotivasi dan memfasilitasi petani dengan sarana alat-alat pertanian yang modern, benih unggul, pupuk, obat-obatan serta dana yang diberikan secara cuma-cuma yang dapat menggenjot hasil pertanian, sehingga ketahanan pangan bukan sekadar wacana.

Khalifah Umar Bin Khattab dapat kita jadikan teladan dalam mengatasi krisis pangan, mulai dari proses produksi, pendistribusian bahan pangan, hingga pasokan bahan pangan dilakukan dengan sebaik mungkin. Bahkan terkadang sang khalifah sendiri yang mengantarkan makanan untuk rakyatnya.

Di samping itu, negara khilafah juga memiliki harta seperti pungutan jizyah, kharaj, ghanimah dan masih banyak lagi. Hal ini sangat memungkinkan negara khilafah mampu mengurusi hajat hidup rakyatnya, meski dalam kondisi pandemi sekalipun. Mulai dari kebutuhan pangan, kesehatan, sandang serta kebutuhan lainya.

 

Dewi Sartika
(Konda, Konawe Selatan)

 

[LM] 

Please follow and like us:

Tentang Penulis