Meraih Pahala Dzulhijjah di Tengah Wabah

Oleh : Ayla Ghania

(Pengemban Dakwah)

 

Lensa Media News – Idul Adha tahun ini tidak semeriah tahun sebelumnya. Ini pengaruh dari kebijakan penundaan pemberangkatan calon jamaah haji 2020. Arab Saudi sendiri membatasi jamaah haji sekitar 1.000-an orang. Biasanya mencapai sekitar 2,5 juta jamaah dari seluruh negeri. Mengingat kasus Covid-19 di Arab Saudi sendiri cukup banyak yaitu 253.349 kasus. Sementara pasien Covid-19 yang dirawat di Rumah Sakit 50.090 orang (aceh.tribunnews.com, 21/7/2020).

Bulan Dzulhijjah adalah salah satu bulan mulia. Nabi saw bersabda :
Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram (suci). Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadil (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari no. 3197 dan Muslim no. 1679)

Bulan Dzulhijjah menjadi bulan mulia karena beberapa alasan. Pertama, Allah bersumpah dalam surat Al-Fajr ayat 1-2, “ Demi Fajar, dan malam yang sepuluh”. Diriwayatkan oleh Masruq dan Muhammad Ibnu Ka’b bahwa yang dimaksud al Fajr adalah fajar Hari Raya Idul Adha.

Kedua, ada hari Arafah yaitu tanggal 9 Dzulhijjah. Puncak pelaksanaan ibadah haji adalah wukuf di Arafah. Rasulullah bersabda : “ Al-Hajju Arafah” (HR Tirmidzi, Abu Daud dan Ibnu Majah). Ibadah Haji tidak sah jika tidak dilaksanakan wukuf di Arafah.

Ketiga, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah merupakah hari-hari yang dimuliakan. Rasulullah saw bersabda :
Tidak ada satu amal sholeh yang lebih dicintai oleh Allah melebihi amal sholeh yang dilakukan pada hari-hari ini (yaitu 10 hari pertama bulan Dzulhijjah)”. Para sahabat bertanya : “ Tidak pula jihad di Jalan Allah?”. Nabi saw menjawab : “ Tidak pula jihad di jalan Allah, kecuali orang yang berangkat jihad dengan jiwa dan hartanya namun tidak ada yang kembali satupun. ” (HR Ibnu Abbas ra)

Keempat, ada ibadah berkurban pada tanggal 10 Dzulhijjah dan di hari tasyrik yaitu tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah. Rasulullah saw bersabda :
Tidak ada suatu amalan yang paling dicintai oleh Allah dari Bani Adam ketika hari raya Idul Adha selain menyembelih hewan kurban. Sesungguhnya hewan itu akan datang pada hari kiamat (sebagai saksi) dengan tanduk, bulu, dan kukunya. Dan sesungguhnya darah hewan kurban telah terletak di suatu tempat disisi Allah sebelum mengalir di tanah. Karena itu, bahagiakan dirimu dengannya.” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah dan Hakim)

Ada banyak hikmah dibalik ibadah berkurban. Selain mengingat napak tilas Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, juga meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah. Belajar lebih banyak ikhlas dan tidak berlebihan dalam mencintai harta dan dunia. Mengasah kepekaan terhadap sesama yang kurang mampu.

Adapun hukum berkurban adalah sunah muakkad (sunah yang diutamakan). Pendapat ini disepakati oleh beberapa ulama antara lain Imam Syafi’I, Imam Malik, Imam Ahmad juga Ibnu Hazm. Sementara Imam Abu Hanifah, Rabi’ah (guru imam Malik), Ibnu Taimiyah dan sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa hukum berkurban adalah wajib bagi yang mampu.

Wabah Covid-19 memberi dampak luar biasa baik positif maupun negatif. Dampak positif antara lain masyarakat lebih peduli kesehatan. Physical distancing menghindari budaya cipika-cipiki antar lawan jenis. Ajaran “Kebersihan sebagian dari iman” akhirnya disosialisasikan semua orang dengan cuci tangan. Serangan terhadap hijab dan cadar terhenti dengan keharusan memakai masker.

Sementara dampak negatif Covid-19 antara lain kasus KDRT dan perceraian meningkat. Kebijakan PHK masal, kenaikan iuran BPJS, kenaikan TDL, juga iuran Tappera.

Sulitnya mendapat pekerjaan sementara hidup terus berjalan. Masa pandemi selama 5 bulan ini menguji ketahanan sebuah rumah tangga. Bertepatan pula dengan tahun ajaran baru. Kebutuhan biaya anak sekolah ditambah kuota yang harus tersedia untuk belajar daring.

Kondisi ekonomi yang labil menjadikan kesempatan berkurban menipis. Akan tetapi, Allah Maha Adil. Surga tidak hanya diperuntukkan bagi orang yang kaya saja. Jika saat ini kita belum mampu membeli hewan kurban, kita masih bisa meraih pahala Dzulhijjah dengan cara lain.

Ada banyak amalan yang bisa dilakukan pada 10 hari pertama bulan Dzulhijjah. Puasa sunnah 7 hari pertama bulan Dzulhijjah, puasa Arafah tanggal 9 Dzulhijjah, lanjut sholat Idul Adha berjamaah. Kita juga dianjurkan memperbanyak bertakbir, bertahmid, bertahlil, shalat sunah dan tilawah. Tidak kalah penting yaitu berbakti kepada kedua orang tua dan menyambung silaturahmi.

Pun demikian, segala amal tidak akan bernilai pahala kecuali dilakukan dengan ikhlas hanya mengharap Rida-Nya. Wajib pula dilakukan berdasarkan Syariat-Nya.

Oleh karena itu, menuntut ilmu agama tetap harus diprioritaskan. Ditengah Covid-19 kita masih bisa menuntut ilmu meski sambil rebahan. Melalui gadget kita bisa menjelajahi ilmu seluas lautan.

Wallahu a’lam bish showab.

 

[ry/LM]

Please follow and like us:

Tentang Penulis