LenSaMediaNews–Peristiwa bullying disertai kekerasan yang menimpa seorang remaja di Pontianak cukup menyita perhatian publik. Di sisi lain, para pelaku yang notabene remaja saat ini belum jelas statusnya, apakah harus kena sanksi atau tidak karena dianggap anak di bawah umur. Kasus ini hanyalah satu dari deretan panjang catatan hitam perilaku negatif remaja di tanah air.

Sebagai salah satu negara dengan jumlah penduduk terbanyak di dunia, Indonesia diperkirakan akan mengalami surplus demografi, khususnya penduduk usia muda. Apabila tidak segera ditangani dengan baik, maka generasi muda justru menjadi beban. Sangat disayangkan, jika populasi besar tapi tidak berkontribusi bagi bangsa. Bahkan, negara terancam mengalami Lost Generation, yaitu hilangnya generasi berkualitas calon pemimpin bangsa.

Minimnya peran keluarga dalam pembentukan karakter anak, membuat anak-anak rentan terpengaruh budaya asing. Apalagi di era internet, dimana informasi apapun mudah diakses. Sebagai sekolah pertama, keluarga haruslah mampu menanamkan nilai spiritualitas sejak dini. Dengan memiliki pondasi agama yang kuat, anak diharapkan terjaga dari pengaruh buruk pergaulan bebas.

Secara umum masyarakat juga memberi andil terhadap tindakan remaja yang semakin liar. Tingkat kompromi yang tinggi membuat remaja menganggap tindak kriminal yang mereka lakukan sah-sah saja demi umbar eksistensi. Ditambah usia belia, membuat remaja bisa lolos dari jerat hukum. Padahal kontrol masyarakat sangat penting dalam upaya mencegah tindak kejahatan, termasuk perilaku liar remaja.

Dan tak kalah penting adalah peran negara. Dengan menerapkan sistem pendidikan yang terintegrasi nilai spiritual, maka remaja khususnya pelajar tentu tidak mudah terjebak budaya liberal. Sehingga akan tercetak generasi muda berprestasi dan siap melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa.

Tolawati

Makassar

[Fa]

Please follow and like us:

Tentang Penulis