Bencana Alam Tak Kunjung Henti, Akibat Akhlak Buruk Manusia?

Aneka ragam bencana menerpa sebagian wilayah negeri ini sejak awal tahun 2021. Pada Sabtu (16/1), banjir dan longsor terjadi di Manado, Sulawesi Utara. Banjir juga terjadi di Kabupaten Lamongan dan Sidoarjo, Jawa Timur, Kabupaten Pidie, Aceh, hingga Kota Cirebon, Jawa Barat. Kemudian pada hari Selasa (19/1), banjir terjadi di kawasan Puncak Bogor.

Selain banjir, Gunung Semeru di Jawa Timur mengeluarkan Awan Panas pada Sabtu (16/1) pukul 17.24 WIB. Kemudian pada Senin (18/1), Gunung Merapi di perbatasan Jawa Tengah dan DIY juga kembali mengeluarkan awan panas guguran.

Bencana lainnya yaitu terjadi gempa bumi di Mamuju dan Majene pada Kamis (14/1). Akibatnya, 88 orang meninggal per Selasa (19/1) berdasarkan pencatatan Basarnas Makassar. Selain itu, menurut data BNPB, hingga Senin (18/1) sebanyak 253 orang mengalami luka berat, 679 orang luka ringan dan sebanyak 19.435 orang mengungsi (Cnnindonesia.com, 19/1/2021).

Hingga kini bencana masih terus terjadi, banjir bandang terjadi di Kota Batu, Malang, Jawa Timur. Banjir menerjang lima titik di Kecamatan Bumiaji dan Kecamatan Batu (Detik.com, 4/11/2021).

Saat berada di Kodam V/Brawijaya Surabaya, Gubernur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan bencana alam bisa membuat angka kemiskinan naik hingga 50%.

“Jadi setiap bencana alam berpotensi terhadap bertambahnya kemiskinan. Bahkan bisa sampai di atas 50%. Nah 80% wilayah Jatim berpotensi terjadinya bencana alam,” (Detik.com, 25/10/2021).

Aneka bencana yang terjadi saat ini menunjukkan betapa lemahnya manusia, dan betapa sangatnya manusia membutuhkan pertolongan Allah SWT.

Betapa tidak layaknya manusia bersikap sombong juga membangkang terhadap ketentuan-Nya, bermaksiat serta berani mencampakkan petunjuk dan aturan-Nya. Allah SWT berfirman:

أَأَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يَخْسِفَ بِكُمُ الْأَرْضَ فَإِذَا هِيَ تَمُورُ . أَمْ أَمِنتُم مَّن فِي السَّمَاءِ أَن يُرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًا فَسَتَعْلَمُونَ كَيْفَ نَذِيرِ

Apakah kalian merasa aman terhadap (hukuman) Allah yang (berkuasa) di langit saat Dia menjungkirbalikkan bumi bersama kalian sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Ataukah kalian merasa aman terhadap (azab) Allah yang (berkuasa) di langit saat Dia mengirimkan angin disertai debu dan kerikil? Kelak kalian akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku.” (TQS.al-Mulk [67]: 16-17)

Bencana ini terjadi bukan sekadar karena rusaknya akhlak dan moral manusia yang tak sedikit gemar mengikuti hawa nafsu, mementingkan kesenangan pribadi tanpa peduli yang lain.

Semua ini merupakan akibat dari pengadopsian sistem kapitalisme yang berlandaskan sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan), membebaskan manusia memiliki sesuatu selama uang berada di saku-saku mereka tanpa memperhatikan hukum syara.

Walhasil, rusaknya lingkungan dikarenakan tangan-tangan manusia yang jauh dari aturan Islam. Allah SWT berfirman:

وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ

Musibah apa saja yang menimpa kalian itu adalah akibat perbuatan kalian sendiri. Allah memaafkan sebagian besar (dosa-dosa kalian).” (TQS asy-Syura [42]: 30)

Maka, semua kemaksiatan itu mengakibatkan fasad (kerusakan) di muka bumi. Di antaranya berupa bencana alam dan dampaknya. Semua ini baru sebagian akibat yang Allah SWT timpakan karena berbagai kemaksiatan yang terjadi di tengah manusia. Tujuannya agar manusia segera sadar dan kembali pada syariat-Nya. Allah SWT berfirman:

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُم بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Telah nyata kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan manusia, supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan Allah SWT).” (TQS ar-Rum [30]: 41)

Karena itu, solusi tuntas untuk mengakhiri segala musibah ini adalah dengan mencampakkan akar penyebabnya, yakni ideologi dan sistem sekularisme-kapitalisme.

Kemudian, terapkan syariah Islam secara kaffah dalam semua aspek kehidupan. Termasuk dalam pengelolaan lahan/tanah, sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

Wallahu a’lam bi ash-shawab

Yumna Nur Fahimah

(Jawa Barat) 

 

[LM]

Please follow and like us:

Tentang Penulis