Oleh :  Anita S

 

Kupikir tak hanya aku seorang yang iri saat melihat iring-iringan jamaah haji atau umrah berangkat. Semua muslim atau muslimah yang di dadanya ada iman pasti ingin menunaikan rukun Islam yang kelima. Namun apa daya, tak banyak yang bisa kuharapkan dari gaji seorang guru honorer sepertiku. 

“Lusi, kita ziarah haji ke rumah wak Jailani yuk.”

Ruli menarik tanganku. Aku paham ia pasti mencari teman untuk menemaninya berburu oleh-oleh haji atau umrah. 

“Males ah, rame kalau sekarang. Besok aja empat hari lagi.”

Bukannya aku tak mau mendapatkan keberkahan doa dari mereka yang baru saja pulang haji atau umrah. Rasa iri dan cemburuku pada mereka yang mampu, seringkali membenahi kakiku untuk berziarah.

“Ayolah, ntar kehabisan air zamzam.”

Meski awalnya enggan, kupaksakan diriku menemani Ruli pergi ke rumah wak Jailani. Aku berusaha menata hati, menghibur diri dan meyakinkan barangkali ada hikmah yang bisa kupetik disana. Syukur kalau dapat rezeki.

Kami mengucapkan salam lalu masuk. Di sana cukup banyak ibu-ibu yang berziarah. Mereka duduk rapi mendengar cerita dari wak Jainab istri wak Jailani. Cerita mereka yang bisa berangkat haji atau umrah memang menjadi buruan ibu-ibu disamping oleh-oleh saat mereka berziarah.

“Ibu-ibu, kalau punya rejeki udah segera daftar haji atau umrah. Jangan nunggu lama. Jangan nunggu anak selesai kuliah, jangan nunggu punya mobil, jangan nunggu lebihan uang ini atau uang itu. Ntar menyesal seperti saya. Berangkat haji dah tua, akhirnya gak bisa maksimal melaksanakan sunah-sunah ibadah haji. Apalagi bapak kamu nih Lusi, segera daftarkan haji. Sawah bapakmu banyak, malu sama Allah gak segera pergi haji atau umrah.” 

Gleg. Aku menelan ludah. Kutundukkan kepalaku di depan ibu-ibu. Aku tak marah pada ucapan wak Zainab. Aku malu pada diriku dan keluargaku. Bapak dan ibu memang punya sawah banyak, tetapi mereka tak segera mendaftar haji atau umrah. Alasannya menunggu adik-adikku lulus kuliah.

“I… Iya wak.”

Tak ada kata-kata lagi nampaknya yang bisa kukatakan kecuali membenarkan perkataan saudara sepupu ayahku ini.

Pikiranku galau, melayang-layang ke negeri seribu satu malam. Kubayangkan betapa senangnya aku bisa pergi ke Baitullah bareng bapakku. Thawaf dihadapan Ka’bah bersama, sa’i, bermalam di Mina, wuquf di Arafah, dan melakukan ibadah di masjid Nabawi.

Hii, Lusi ayo pulang!”

Suara Ruli merusak lamunan indahku. Aku tersenyum dan mengikutinya dari belakang.

 

*** 

Sepulang kerja saat melewati salah satu bank syari’ah mataku tertuju pada banner yang berisi tulisan, ‘Tabungan Haji dan Umrah’. Kuhentikan laju kuda besiku. Selama ini aku tak tertarik sama sekali untuk membacanya apabila masuk kedalamnya. Di dalam benakku, aku tak begitu suka berurusan dengan bank. Sistem bunga ribawi yang kompleks dan sulit dihindari membuatku memilih untuk tidak mendekati mereka.

Akan tetapi kali ini, ucapan wak Zainab kemarin terus menghantuiku. Melayang-layang di benakku. Aku ingin menabung untuk sekadar berangkat umrah yang biayanya jauh lebih ringan. 

Aku meminta informasi tentang tabungan haji dan akad yang dipakai. Pihak customer service menjelaskan panjang lebar tentang cara kerja tabungan haji dan umrah yang mereka miliki. Fix, aku setuju dengan akad  wadiah tanpa riba. Aku juga bertanya tentang bisa atau tidak untuk membukakan rekening tabungan haji untuk bapakku sedangkan pada saat itu beliau enggan untuk berangkat ke bank atau ke lembaga sejenisnya.

Beruntungnya pihak bank memberiku lembaran-lembaran yang harus diisi secara lengkap serta ditanda-tangani oleh bapakku. Aku tak bisa mengisinya di bank. Sebab sebenarnya meskipun 100% aku adalah anak kandung ayahku, sampai saat itu aku tak tahu tanggal lahir bapakku. Sungguh memalukan memang, tapi biarlah lembaran formulir pendaftaran dan persetujuan membuka tabungan haji kubawa pulang kerumah. 

Assalamualaikum…”

Kuucapkan salam dengan riang saat memasuki rumah. Ibuku sibuk menyiapkan makanan di dapur, sedangkan ayahku duduk di sofa menikmati acara reality show. Kuberanikan diri mendekat kepadanya lalu pelan-pelan menyampaikan maksudku. Kubayangkan wajah bapakku berseri-seri menyambut rencanaku. 

“Bapak gak butuh tabungan umrah atau haji.”

Wajah bapak tak senang dengan lembaran-lembaran yang kuberikan kepadanya. Perkiraanku meleset total. Entahlah mengapa bapak justru marah melihat uapayaku.

“Siapa yang tak ingin pergi haji? Siapa yang tak ingin pergi umrah? Tapi umur bapak sudah tua. Bisa mengantarkan kalian menjadi shalih dan shalihah sudah cukup. Tak perlu kamu menabung untuk bapak pergi haji atau umrah. Kamu bimbing adik-adikmu kejalan yang benar, dan kamu ajari mereka belajar dan bekerja itu sudah cukup bagi bapak.” 

Ah, aku tadinya ingin marah saat bapak menolak niat baikku. Akan tetapi mendengar perkataannya, bibirku kelu. Aku tak punya argumentasi lagi, meskipun aku paham berhaji dan mendidik anak-anak adalah dua kewajiban yang tidak bertentangan keduanya sama-sama harus diupayakan. Besar pahalanya sesuai dengan usahanya.

“Kalau bapak mau, bapak bisa saja jual sawah lalu pergi haji. Tetapi bagaimana denganmu dan adik-adikmu nanti jika nanti sawah dan ladang habis?”

Aku diam. Bukan saat yang tepat untuk beradu argumentasi dengan bapak jika sudah membahas hal ini. 

Kulipat lembaran yang ada di tanganku. Tapi, aku tetap ingin menabung. Kerinduanku kepada Baitullah terlanjur menggunung tinggi. Mungkin suatu saat nanti aku bisa pergi bersama bapakku tanpa menjual sawah atau ladang.

Seratus ribu atau dua ratus ribu kusisihkan setiap bulan. Uang bonus membuat soal dan menjaga ujian pun langsung kumasukkan ke tabungan. Tak terasa dalam enam bulan telah terkumpul uang 8 juta. Mungkin ini rejeki yang Allah janjikan kepada orang-orang yang ingin datang ke RumahNya. Jika tak ada halangan 3-4 tahun lagi aku bisa berangkat umrah. Atau mungkin bisa lebih awal.

 

***

Bip… Bip… Bip...” Gawaiku meraung-raung.

Kulihat panggilan dari adikku. Kumatikan saja gawaiku. Anak didikku sedang ulangan, tak mungkin bu gurunya menerima telepon di dalam kelas. Sesaat kemudian gawaiku berdering kembali. Aku keluar sebentar untuk mengangkat telepon.

“Halo, assalamualaikum.” Sapaku.

“Waalaikumsalam, kak cepat pulang! Bapak sakit.” Suara Vian terdengar gagap.

“Sakit apa?” Tak biasa si bungsu menghubungiku di jam mengajar begini. Apalagi pekan ini pekan ulangan.

“Aku gak tau kak, pulang dari sawah bapak lemas kak. Ngomongnya ‘cedal‘.” 

Mataku terbelalak mendengar keterangan lebih lanjut dari adikku. Anganku menuju ke satu hipotesis, “Mungkinkah bapak keracunan obat pertanian?” Aku segera pergi ke kantor, meminta petugas untuk mengantikanku menjaga anak-anak yang sedang ulangan. 

Tanpa berpikir panjang aku melaju dengan kecepatan tinggi pulang ke rumah. Perjalanan dari sekolah ke rumahku memakan waktu cukup lama kurang lebih 45 menit. Ah perjuangan seorang guru honorer sepertiku kadang terasa ironis dan dilematis.

Awan hitam berjalan berarak-arakan. Mereka berkumpul menjadi satu, bersiap menumpahkan air ke bumi. Petir mulai menyambar-nyambar, memberi kabar sebentar lagi turun hujan. Sungguh seperti sinetron saja.

Sampai di rumah, kulihat ayahku yang tergeletak lemas di atas ranjang. Pandangan matanya aneh, satu pupil melebar pupil yang lainnya menyempit. Kutanya kepada adikku apa yang bapak kerjakan di sawah. Ternyata menurut keterangan adikku, bapak baru saja selesai menyemprotkan pestisida ke tanaman tomat di sawah.

Di bawah guyuran hujan aku mencari kelapa hijau. Sayangnya, tak satupun kios di pinggir jalan menyediakan kelapa hijau sabut pink. Yang ada hanya kelapa muda biasa. Karena tak ada lagi, tetap saja ku beli kelapa muda itu. 

Kubimbing bapak untuk minum. Kuminta beliau menghabiskannya. Setelah meminum air kelapa muda, kubiarkan bapak istirahat kembali. Dengan kondisinya yang demikian tak mungkin aku membonceng bapak ke puskesmas atau rumah sakit. Apalagi dalam kondisi hujan lebat.

Aku keluar dengan motorku meski hujan sangat lebat. Aku ingin menemui dokter, perawat, atau bidan yang mungkin mau datang ke rumah untuk memeriksa bapak. 

Rasanya, dadakku sesak saat tak bisa menemui satupun diantara mereka. Ada satu orang saudara petugas kesehatan, tetapi beliau tak bersedia datang ke rumah. Sang istri menyebutkan beliau baru pulang dan masih kecapekan karena dinas malam. Kali ini diriku seperti artis sinetron yang berlari ke sana-kemari di bawah guyuran air hujan mencari pertolongan.

Aku pulang dengan tangan hampa. Sebelum masuk rumah, kuhapus terlebih dahulu air mataku. “Bapak, aku tak bisa berbuat banyak untuk menolongmu.”

Sore hari kondisi bapakku semakin memburuk. Ia sudah tak sadarkan diri. Tangan dan kakinya kejang-kejang. Aku meminta tolong kepada tetangga untuk mengantarkan kami ke rumah sakit.

Sesampai di rumah sakit bapak segera di tangani oleh para perawat dan dokter jaga. Mereka menyesalkan mengapa aku tak segera membawa ke rumah sakit siang tadi. Berulang kali mereka menginjeksikan obat yang aku tak tahu apa namanya ke selang infus, namun tak ada reaksi dari bapak. Layar cardiogram menunjukkan grafik acak, sebentar lurus sebentar naik turun.

Lututku mulai lemas, perutku sakit, dan tubuhku panas dingin. Akankah aku akan kehilangan bapakku malam ini? Air mataku mulai mengalir deras. Kuambil Al-Quran dan kuajak adik-adikku membaca surat Yasin. Entah mengapa, rasa sesak di dada kian bertambah saat melantunkan ayat-ayat di dalam surat Yasin. 

Pagi hari di waktu dhuha, bapak menghadap Sang Pencipta. Aku tak bisa menangis, membayangkan beban berat yang akan berpindah dipundakku.

 

***

Kupandangi tabungan hajiku, nilainya hanya delapan juta. Apa yang bisa kuperbuat dengan uang 8 juta? 

Aku mengajak Ruli untuk datang ke Travel Haji dan Umrah guna mencari info tentang haji untuk orang yang sudah meninggal. Diantara 3 travel haji dan umrah hanya satu yang memfasilitasi haji untuk orang yang sudah meninggal. Mereka menyebutnya ‘Haji amanat’. Biayanya juga tak terlalu besar, sebab pelaksanaan ibadah haji diamanahkan kepada orang-orang Arab yang terbiasa menghajikan orang-orang yang sudah meninggal.

Kupandangi tiket ‘haji amanat’ yang ada di tanganku. “Bapak aku sudah belikan tiket haji dan umrah untuk bapak.” Bisikku dalam hati. Air mataku meleleh, rasa sedih dan bahagia bercampur menjadi satu. Di Musim haji yang akan datang bapak sudah bisa melakukan ibadah haji, meskipun dengan cara seperti ini.

-Sekian-

 

[sn/LM] 

Please follow and like us:

Tentang Penulis