Judi Online, Akhiri Biduk Cinta Sang Polwan

Oleh: Rut Sri Wahyuningsih

Institut Literasi dan Peradaban

 

LenSa Media News–Emosi menguasai Briptu Fadhilatun  saat melihat saldo tabungan untuk gaji ke-13 berkurang cukup signifikan. Sesegera mungkin meminta suaminya, Briptu Rian Dwi, untuk  pulang di rumah mereka di rumah dinas Aspol nomor J1, Jalan Pahlawan, Kelurahan Miji, Kranggan, Kota Mojokerto.

 

Cekcok tak terelakan antara suami istri polisi itu. Terjadilah pembakaran hidup-hidup, yang menghasilkan luka bakar pada korban, Briptu Rian Dwi, lebih dari 90 persen. Meski secara sadar Briptu Fadhilatun membawa suaminya ke rumah sakit dengan dibantu tetangganya, tak urung penyesalan muncul. Biduk rumah tangganya hangus, menjadi abu ikut terbakar bersama jasad suaminya.

 

Akar masalahnya karena ada dugaan gaji ke-13 itu dihabiskan untuk judi online. Nyata dampaknya sangat luar biasa. Kabid Humas Polda Jatim Kombes Dirmanto mengungkapkan, penganiayaan ini baru sekali dilakukan oleh Briptu Fadhilatun. Menurutnya, hal itu terjadi karena tersangka sudah terlalu jengkel dengan korban (detik.com, 10/6/2024).

 

Depresi Bukan Sekadar Sumbu Pendek

 

Berbagai tekanan hidup hari ini memang seringkali di luar logika. Menimpa siapa saja pun bagi seorang polwan yang tugasnya menjaga keamanan rakyat. Angka kriminalitas tak kunjung menurun, bahkan lembaga kepolisian pun menjadi sarang kriminalitas dari kasus narkoba, pembunuhan antar polisi, korupsi dan lain sebagainya. Artinya, kejahatan hari ini sudah sangat tersistematis, bukan lagi perkara oknum atau kasuistik.

 

Judi online yang hingga hari ini pemerintah gagal menghabisinya, menunjukkan ketidakseriusan mengurusi urusan rakyat. Depresi yang dialami Briptu Fadilatun memang bukan kasus baru, namun bisa dipastikan bukan sekadar faktor sumbu pendek hingga emosi memuncak.

 

Kapitalisme yang diterapkan hari ini sebagai sistem ekonomi, telah gagal menciptakan kesejahteraan. Berbagai pungutan pemerintah benar-benar membuat setiap orang memutar otak mencari cara agar bisa tetap bertahan hidup, biaya hidup yang tinggi benar-benar menjadikan keluarga dengan pendapatan menengah kebawah kelimpungan.

 

Demokrasi, sebagai sistem politik yang dianut negara, dari proses pemilunya, diharapkan mampu melahirkan pemimpin yang lebih baik, dalam artian tidak lagi-lagi tunduk pada aturan korporasi tapi benar-benar fokus mengurusi urusan rakyat, ternyata nihil! Belum resmi dilantik sudah membuat heboh dengan berbagai program, padahal dana cupet (sedikit.jawa, pen) tapi program luar biasa ngawur.

 

Ada program makan siang gratis, tapi belum ada pos di APBN, program bangun 3 juta rumah tapi yang muncul malah Tapera, Tabungan perumahan rakyat dengan berbasis gotong royong yang ujungnya pengambilan dana rakyat dengan kamuflase “ pemupukan” (baca: investasi) dana hingga mendapatkan return guna pendaan kredit rumah, renovasi dan pembangunan rumah.

 

Wajar jika banyak individu rakyat yang beralih ke judi online, mencari peruntungan nasib, siapa tahu benar-benar menang besar dan hidup nyaman. Tak peduli halal haram, riba atau bukan. Ironi, di negeri dengan mayoritas penduduknya beragama Islam namun penghidupan dengan jalan riba tak pernah dihindari. Bahkan menjadi program pemerintah.

 

Islam Solusi Terbaik Wujudkan Kesejahteraan

 

Beban hidup memang tak bisa dikatakan ringan, tapi tak juga harus mencekik hingga manusia tak lagi menghargai nyawa. Seolah semua solusi dari persoalan hidup hanya mengakhiri hidup diri sendiri maupun orang lain. Dari al-Barra’ bin Azib ra, Nabi Saw. bersabda, “Hilangnya dunia, lebih ringan bagi Allah dibandingnya terbunuhnya seorang mukmin tanpa hak.” (HR. Nasai 3987, Turmudzi 1455, dan dishahihkan al-Albani).

 

Faktor lemahnya hukum sangat berpengaruh pada tatanan masyarakat. Para penjudi, bandar, pemilik aplikasi judi online dan semua yang berkaitan dengan judi tak pernah bisa diberantas. Aplikasinya saja, pemerintah masih kucing-kucingan, dibanned satu akun tumbuh seribu. Rasa aman yang tercerabut telah menciptakan rasa curiga dan marah berlebihan.

 

Kemudian masyarakat yang individualistis makin memperparah keputusasaan seseorang hingga mampu berbuat di luar kebiasaan. Maka, tidak ada jalan lain selain kembali kepada pengaturan Islam, mengapa harus demikian?

 

Islam sebagai agama sempurna, memiliki aturan yang rinci terkait pemeliharaan urusan rakyat. Judi online jelas tak akan mendapat tempat sebab hukumnya haram. Negara dalam pandangan Islam, wajib membuka lapangan pekerjaan seluas mungkin agar para suami, ayah dan pria yang wajib menafkahi mampu bekerja dengan mudah dan halal.

 

Negara menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok lainnya dari sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan dan keamanan dengan biaya dari hasil pengelolaan sumber daya alam yang menjadi kepemilikan umum, harta fa’i, jizyah, kharaj dan lainnya yang menjadi harta milik negara dan zakat. Semua terkumpul di Baitulmal.

 

Syaratnya hanya kapitalisme demokrasi harus dicabut dan diganti dengan penerapan syariat Kaffah. Wallahualam bissawab. [LM/ry].

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Please follow and like us:

Tentang Penulis