Taat Membawa Maslahat

Oleh: Nining Sarimanah

 

 

LenSa MediaNews__Kajian rutin bulanan yang diselenggarakan oleh Majelis Taklim Nurul Qur’an, kembali digelar pada 2 Juni 2024 di Masjid Al-Islam, Cijerah, Kota Bandung. Adapun, tema yang diangkat adalah Taat Membawa Maslahat. Kajian dipandu oleh Bu Wina, pembacaan ayat suci Al-Qur’an, surah Ash-Shaffat ayat 102 oleh Ibu Pinarti, dan materi disampaikan oleh dua narasumber, yaitu Ustazah Ibu Finita dan Ummi Iis.

 

 

Penyampaian pertama oleh Ummi Iis. Sebentar lagi, umat Islam di seluruh dunia akan melaksanakan ibadah kurban atau Hari Raya Iduladha. Ibadah ini, erat kaitannya dengan kisah dan sejarah dari sosok Nabi Ibrahim as. dan putranya, Nabi Ismail as. yang luar biasa. Kisah tersebut, menggambarkan ketaatan totalitas terhadap perintah Allah. Di mana, Nabi Ibrahim diperintahkan oleh Allah untuk menyembelih putra kesayangannya, Ismail.

 

 

Perintah tersebut, Allah sampai dalam mimpi Ibrahim selama tiga malam. Ia yakin bahwa mimpi itu, berasal dari Allah dan Ibrahim menyampaikan kepada putranya, untuk menanyakan bagaimana pendapatnya? Ismail pun, tanpa ragu dan meminta sang ayah mengikuti kehendak Allah Swt.

 

 

Tibalah waktunya, penyembelihan Ismail. Setan tidak tinggal diam, menyaksikan Ibrahim dan Ismail ikhlas mematuhi perintah Allah. Setan menggoda Ibrahim dari berbagai sisi, agar membatalkannya. Namun, godaan setan tidak mampu mengubah pendirian Ibrahim, karena kuatnya keimanan yang dimiliki Ibrahim. Melihat begitu besar cinta dan ketulusan ibrahim, Allah mengganti Ismail dengan seekor kambing, masyaa Allah.

 

 

Ketundukan Ismail merupakan bukti bahwa kedua orang tuanya telah mendidik putranya dengan akidah yang kuat sehingga lahir sosok individu yang bertakwa. Di sisi lain, kisah ini mengajarkan bahwa ketika anak sudah menginjak usia baligh (dewasa) maka posisikan anak sebagai teman, sehingga ketika ada persoalan bisa diajak musyawarah dan dimintai pendapatnya.

 

 

Tentu saja, setiap anggota keluarga dalam pemahaman dan perbuatan harus dilandasi keimanan kepada Allah, sehingga ketika anak menyampaikan pendapat tidak keluar dari jalur syariat. Adapun, jika anak salah dalam berpendapat, maka orang tua mengingatkannya dengan bijak. Dan ingatlah, setiap ujian yang berikan, sesuai kadar keimanan dan kemampuannya. Sehingga yakinlah, ujian tersebut pasti mampu dilaluinya, sebagaimana kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail.

 

 

Kemudian, materi kedua disampaikan oleh Ustazah Ibu Finita. Beliau menyampaikan bahwa ketaatan kepada Allah harus total pada seluruh syariat Islam, baik aturan Allah yang mengatur hubungan manusia dengan Allah, seperti akidah dan ibadah, aturan manusia dengan dirinya sendiri, seperti makanan, minuman, akidah, dan akhlak, maupun hubungan manusia dengan sesama seperti pernikahan, ekonomi, sosial, budaya, politik, pendidikan, hubungan luar negeri, dan keamanan.

 

 

Karena itu, Islam tidak mengenal sekularisme, yaitu pemisahan agama dari kehidupan. Karena bagi umat Islam, konsekuensi dari keimanan kepada Allah adalah terikat dengan seluruh syariat Islam dalam setiap kehidupan. Sebaliknya, jika aturan Islam hanya diambil sebagian dari aspek ibadah mahdah saja, maka yang terjadi adalah kesempitan dan penderitaan seperti kemiskinan, kebodohan, kriminal meningkat, hingga genosida yang dilakukan oleh entitas Yahudi atas warga Gaza.

 

 

Berbagai persoalan tersebut hingga detik ini, tidak mampu dituntaskan selama negeri ini menerapkan sistem sekuler kapitalisme. Umat Islam harus keluar dari krisis tersebut, dengan melakukan tobat dan menjalankan perintah Allah secara kaffah dalam institusi negara. Alhasil, kemaslahatan akan dirasakan oleh seluruh manusia tanpa kecuali. Allah akan melimpahkan keberkahannya di bumi dan di langit, Allah Swt. berfirman;

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰٓى اٰمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَاۤءِ وَالْاَرْضِ وَلٰكِنْ كَذَّبُوْا فَاَخَذْنٰهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ ۝٩٦

Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan membukakan untuk mereka berbagai keberkahan dari langit dan bumi. Akan tetapi, mereka mendustakan (para rasul dan ayat-ayat Kami). Maka, Kami menyiksa mereka disebabkan oleh apa yang selalu mereka kerjakan”. (QS Al-A’raf ayat 96)

Wallahu a’lam bishshawab

Please follow and like us:

Tentang Penulis