Prostitusi Menjamur, Tindakan Makin Ngawur

Oleh: Yuke Octavianty

(Forum Literasi Muslimah Bogor)

 

Lensa Media News, OPINI-Merebaknya bisnis prostitusi menjadi satu masalah besar yang belum juga tertuntaskan. Yayasan Lembaga Kajian Strategis (LeKas) Kota Bogor, mencatat hingga pertengahan November 2022, ada sekitar 1.600 wanita PSK yang terjerat bisnis prostitusi (Radar Bogor, 18/11/2022). Wanita-wanita tersebut menyebar di Kabupaten Bogor, baik di wilayah Puncak, wilayah Bogor Utara, hingga wilayah Timur Kabupaten Bogor.

 

Tak hanya di Bogor. Bahkan di Jakarta, telah terkenal beberapa tempat prostitusi yang “legendaris”. Keberadaanya seolah abadi bahkan dilokalisasi sejak pendudukan Belanda. Di antaranya, lokalisasi Kramat Tunggak, Kalijodo, dan prostitusi Macao Po (Sindonews, 17/11/2022).

 

Meskipun telah dikendalikan, namun prostitusi ini kembali subur dan menjadi salah satu mata pencaharian yang dianggap biasa oleh masyarakat sekitar. Miris.

 

Bandung pun tak kalah saing dengan kota lain. Bisnis prostitusi menjadi salah satu bisnis haram yang menjanjikan. Banyak sekali warung remang-remang yang menjadi tempat beroperasi para PSK. Meskipun sering dikabarkan tentang pembongkaran wilayah prostitusi, namun seiring dengan pembongkaran, selalu diikuti adanya “pembukaan” lahan baru. Seolah bisnis ini menolak mati. Prostitusi, bisnis haram yang selalu diikuti bisnis lainnya. Yang juga dilarang, seperti judi, minuman beralkohol hingga peredaran dan konsumsi narkoba. Memprihatinkan.

 

Keadaan serupa pun terjadi di banyak kota lainnya. Miris. Di negara yang berpenduduk mayoritas muslim, justru kemaksiatan seolah tak bisa dikendalikan.

 

Mengapa Demikian?

 

Menjamurnya prostitusi tak lain karena sistem buruk yang kini dijadikan acuan. Tak peduli standar benar atau salah terhadap perbuatan yang dilakukan. Yang penting, dapat penghasilan. Tak peduli lagi pada aturan kehidupan.

 

Sistem sekularisme, sistem yang kini dipijak, menjauhkan berbagai aturan agama dalam mengatur setiap segi kehidupan. Bahkan meninggalkan setiap aturan agama yang seharusnya dipegang teguh.

 

Kehidupan yang kian sulit, memaksa masyarakat untuk berbuat tak benar. Mahalnya biaya kehidupan harian, badai PHK yang terus mendera, membuat masyarakat menjadi frustasi. Hingga akhirnya memilih prostitusi sebagai solusi. Miris.

 

Sistem sekuler kapitalistik tak bisa menuntaskan segala masalah prostitusi dan segala yang berkaitan dengan kasus tersebut. Karena sistem ini menihilkan efek jera. Hukuman yang ditetapkan tak menjadikan si pelaku kapok. Hingga akhirnya tindakan tersebut, berulang dan terus berulang.

 

Di sisi lain, sistem sekuler kapitalistik memandang bahwa setiap individu memiliki Hak Asasi Manusia (HAM) yang harus dibela dan diperjuangkan. Padahal inilah pangkal utama masalah yang kini terus merusak tatanan masyarakat. HAM yang digaungkan dapat menjaga kehormatan masyarakat, ternyata salah besar.

 

HAM yang kini dipelihara, menciptakan kebebasan yang bablas. Prinsip “My Body is My Right” menjadi penghalang diterapkannya aturan yang sempurna, yaitu aturan Islam. Padahal kezaliman akan semakin liar dan membabi buta, saat satu syariat saja tak diterapkan dalam kehidupan. Sama persis seperti keadaan saat ini. Astaghfirullah.

 

Syariat Islam yang Tegas

 

Apa pun bentuknya. Apa pun media yang digunakan. Islam menegaskan hukuman yang berat dalam perbuatan tersebut. Hukum ini bersifat preventif (zawajir) agar kasus serupa tak berulang. Dan hukuman yang bersifat kuratif (jawabir), sebagai penghapus dosa bagi para pelaku di hari akhir kelak.

 

Allah Swt. mengaitkan dosa berzina dengan dosa besar lainnya, seperti dosa perbuatan syirik dan pembunuhan.
Allah Swt. berfirman :
Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan lain beserta Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan( alasan) yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada Hari Kiamat dan dia akan kekal dalam azab itu, dalam keadaan terhina, kecuali orang-orang yang bertobat.” (QS. Al-Furqan: 68-70)

 

Di dunia, pelaku zina selayaknya mendapat hukuman berupa hukum cambuk 100 kali (bagi yang belum pernah menikah) (QS. An-Nur: 2) dan diasingkan selama setahun (HR. Al-Bukhari). Ada pun pezina yang sudah menikah atau belum pernah menikah tetapi sering berzina dikenai hukum rajam (dilempari dengan batu) sampai mati.

 

Diriwayatkan, saat Rasulullah saw. berada di masjid, datanglah seorang pria menghadap beliau dan melapor, “Ya Rasulullah, aku telah berzina.” Mendengar pengakuan itu Rasulullah saw. berpaling dari dia sehingga pria itu mengulangi pengakuannya sampai empat kali.

 

Kemudian Rasulullah bertanya, “Apakah engkau gila?” Pria itu menjawab, “Tidak.” Rasulullah bertanya lagi, “Apakah kamu orang muhshan?” Pria itu menjawab, “Ya.” Lalu Rasulullah saw. memerintahkan kepada para sahabat, “Bawalah dia pergi dan rajamlah.” (HR. Al-Bukhari)

 

Syariat Islam tegas melarang perbuatan zina tersebut. Mendekatinya saja haram. Karena Islam begitu menjaga kemuliaan kaum muslimin. Sementara zina adalah haram, sudah tentu prostitusi juga haram hukumnya. Karena dianalogikan sebagai perbuatan serupa. Setiap perbuatan yang Allah Swt. haramkan atasnya, tentu memiliki tujuan maslahat bagi seluruh umat.

 

Negara pun memiliki kewajiban menjaga umat dari segala bentuk perzinaan. Termasuk prostitusi. Bukannya malah dilegalkan dan dilokalisasi seperti saat ini. Edukasi sangat dibutuhkan. Untuk membentuk dan menjaga pemahaman masyarakat. Segala penjagaan demi rida Allah Taala. Berlandaskan iman dan takwa setiap individu muslim.

 

Hanya sistem Islam yang dapat membentuk pemahaman sempurna tentang segala syariat Islam yang dapat menjaga. Menjaga kehidupan agar selalu mulia. Sistem Islam yang menerapkan syariat Islam yang menyeluruh di setiap bidang. Segala syariat yang Allah Swt. tetapkan adalah solusi. Bukan hanya sekadar halusinasi.

Wallahu a’lam bisshowwab.

[LM, Hw]

Please follow and like us:

Tentang Penulis