Kehidupan Suram, Refleksi Sistem yang Buram

Oleh : Yuke Octavianty
(Forum Literasi Muslimah Bogor)
Lensa Media News – Segala bentuk kerusakan semakin nampak jelas di depan mata. Berbagai fakta yang ada membuat kita mengelus dada. Kerusakan terjadi hampir di setiap segi kehidupan.
Kriminalitas yang semakin meresahkan. Geng motor atau begal semakin berani menunjukkan keberaniannya. Hampir di setiap kota, selalu ada geng motor yang meresahkan. Aksi geng bermotor yang dilengkapi senjata tajam. Belum lama terjadi pembacokan pelajar yang dilakukan sekelompok geng motor di wilayah Bandung Barat (news.detik.com, 14/11/2022) . Fakta sama pun terjadi di Tasikmalaya. Puluhan anggota geng motor diamankan petugas kepolisian saat tenggak miras. Bahkan ada 2 orang remaja perempuan yang juga ikut komunitas tersebut (kompas.com, 14/11/2022). Sungguh fakta yang memilukan.
Sementara kekerasan seksual semakin merajalela. Suami membunuh istri, perselingkuhan, balas dendam, atau bahkan suami atau istri yang menganiaya anaknya sendiri. Memprihatinkan. Tragedi seorang suami yang menganiaya istri dan anaknya hingga tewas, yang baru saja terjadi di Depok, Jawa Barat (liputan6.com, 3/11/2022).
Ditambah lagi dengan berjamurnya perzinaan. Pergaulan yang makin rusak. Tak hanya mengancam para remaja, bahkan pergaulan anak-anak pun kian mencemaskan. Generasi kian terpuruk dalam sistem yang buruk.
Kerusakan lain pun seolah tak mau kalah unjuk gigi. Merebaknya kasus PHK di tengah inflasi yang kian menggila. PHK besar-besaran yang tengah terjadi semakin mengkhawatirkan. Dari pabrik tekstil, sepatu bahkan hingga perusahaan-perusahaan besar global pun terdampak seperti Amazon yang merumahkan 10.000 pegawainya (detik.com, 15/11/2022)
Kemiskinan semakin meningkat. Segala kebutuhan hidup semakin tak terbeli. Pendidikan, kesehatan hingga minimnya pemenuhan pangan. Penipuan terjadi dimana-mana. Seolah semua masalah ini terus berputar dan tak pernah berhenti di satu titik solusi.
Fakta lain, yang kini juga tengah hangat diperbincangkan tentang perhelatan para pemimpin dunia. KTT 20 dan G20, yang tengah berusaha mensolusikan krisis multidimensi yang tak berhenti menyapa dunia. Arisan akbar para pemimpin yang hanya memamerkan kekuasaan. Alih-alih ingin menyelamatkan dunia dari berbagai krisis, namun ternyata solusi-solusi yang dihasilkan hanya solusi palsu. Yang sama sekali tak berpihak pada rakyat.
Kehidupan yang kini terpampang, mencerminkan hasil pengelolaan sistem yang timpang. Segala keburukan tersaji. Kemiskinan, kekerasan seksual, kriminalitas yang kian tak terbatas, mahalnya segala biaya kehidupan. Semuanya serentak menyapa masyarakat. Tentu hal ini melahirkan masyarakat yang tak percaya lagi pada para pengelola kebijakan. Krisis kepercayaan. Akhirnya rakyat pun bingung, kemana akan mengadu atas segala masalah yang kini terus menghimpit?
Sekularisme telah menciptakan kerusakan yang luar biasa. Konsep pemisahan aturan agama dari kehidupan, menjadi biang kerok segala masalah. Sekulerisme menjadikan pemikiran setiap individu menjadi cacat. Hingga lupa konsep bahwa segala aturan agama seharusnya menjadi dasar pengaturan.
Kapitalisme pun menyumbang berbagai kerusakan yang kini ada. Berbagai pemikiran tentang materi. Hanya menghitung-hitung keuntungan berbasis materi, menjadikan setiap individu tak mengerti asas perbuatan benar atau salah. Tak peduli aturan agama dan esensinya.
Tak hanya itu, liberalisme pun menjadikan individu sebagai jiwa yang hanya berorientasi pada barat. Gaya barat yang selalu dikatakan maju dan modern. Namun, nyatanya segala pemahaman ini salah besar.
Dampak yang luar biasa menghantam dunia saat aturan agama hanya dipandang sebelah mata. Inilah buah rusaknya sistem. Sistem yang kini dijadikan sandaran, tak mampu mengatur kompleksitas kehidupan. Bahkan semakin memperburuk keadaan.
Tak inginkah kita pulih dan bangkit? Tentu kita tak ingin selamanya dalam keterpurukan.
Kita hanya dapat “sembuh” dari segala penyakit ini dengan penerapan sistem Islam. Islam yang tak hanya dijadikan aturan beribadah. Namun, menjadikan Islam sebagai sumber aturan kehidupan. Tak ada pilihan lain. Mengganti segala sistem yang rusak dengan sistem shahih yang Allah SWT perintahkan untuk mengatur dan menjaga kehidupan.
Beragam kisah tentang sejahteranya kehidupan dalam naungan Khilafah yang menerapkan syariat Islam dengan menyeluruh.
Salah satu contoh, seorang sejarahwan Barat dalam bukunya berjudul ” Story of Civillazation” , mengatakan bahwa “Para Khalifah telah memberikan keamanan luar biasa besarnya pada kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah pun memberikan kesempatan untuk siapa pun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang luas. Fenomena ini pun belum pernah tercatat dalam sejarah setelah zaman mereka.
Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:
“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan mendapatkan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa,” (QS. Ali ‘Imran: 133)
Lantas, masihkah kita ragu dengan pengaturan syariat Islam? Sudah semestinya kita bersegera dalam menerapkan aturan Allah SWT. Karena segala aturan Allah SWT merupakan satu-satunya aturan yang sesuai fitrah, memuaskan akal manusia serta melahirkan kesejahteraan bagi seluruh umat.
Wallahu a’lam bisshowwab.
[LM/nr]