Carut Marut Kehidupan Sosial, Salah Siapa?

Lensa Media News– Keji…..Itulah kata yang terucap saat membaca pemberitaan seorang anak di Medan, Sumatera Utara yang di usia 12 tahun diduga menjadi korban pemerkosaan dan perdagangan orang selama bertahun-tahun hingga terjangkit HIV/AIDS (Kompas, 20 Sept 2022).

Bagaimana mungkin diusia yang masih sangat muda, seorang anak sudah mengalami pemerkosaan berulang dan itu dilakukan oleh orang terdekat. Kemana orang tua dan saudaranya? Kemana orang-orang yang mestinya melindunginya?

Rasanya itu diluar nalar jika ternyata orang yang mestinya melindungi, mengayomi dan menjaga malah justru merusaknya. Mungkin terbersit dalam pikiran kita, apa yang salah dengan semua carut marut kehidupan ini?

Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa semua itu akibat dari diterapkannya sistem sekuler. Dimana paham agama tidak boleh masuk dalam segala urusan kehidupan baik berpolitik, bernegara, pendidikan termasuk tata pergaulan. Agama adalah urusan pribadi, yang tidak boleh masuk dalam urusan publik, sehingga manusia bebas membuat aturan sesuai keinginannya.

Dengan kehidupan yang serba bebas, pergaulan bebas, sistem pendidikan yang tidak mementingkan agama, maka wajar pada akhirnya sistem sekuler menghasilkan keluarga yg amburadul. Allah Swt. berfirman:

Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).” (QS. Ar-Rum: 41).

Islam memandang bahwa sistem yang baik adalah sistem yang berasal dari Sang Pencipta, yaitu Allah Swt.. Hanya Sang pencipta yang paham bagaimana memperlakukan hasil ciptaan-Nya. Oleh karena itu, agama sudah semestinya selalu hadir dalam setiap aspek kehidupan, termasuk dalam sistem bernegara, berpolitik, pendidikan, pergaulan, termasuk dalam urusan hak pengasuhan anak. Dalam Islam, tanggung jawab pengasuhan dan pemeliharaan seorang anak ada pada kedua orang tuanya. Rasulullah saw. bersabda:

Tiada satu pemberian yang lebih utama yang diberikan ayah kepada anaknya selain pengajaran yang baik“.

Lalu bagaimana ketika kedua orang tuanya sudah tidak ada? Maka tanggung jawab ini beralih ke kerabat-kerabatnya seperti kakeknya, neneknya dan saudaranya. Tidak kalah penting, negara berkewajiban menerapkan sistem yang mampu menjamin tumbuh kembang anak agar bisa berkembang secara paripurna. Sistem yang mampu menjamin pendidikan yang baik, pergaulan yang baik, lingkungan yang baik itu hanya dapat terwujud jika diterapkannya sistem dari Sang Pencipta, yaitu sistem Islam. Allah Swt. berfirman:

… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” (QS. Al-Ma’idah :3)

Wallahu A’lam Bishawab

Ade Nugraheni, 

Ciomas Bogor

[LM, Hw]

Please follow and like us:

Tentang Penulis