Sakit Hati, Melunturkan Hati Nurani

Baru-baru ini terjadi kasus pembunuhan yang dilakukan oleh pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di daerah Dusun Sudimoro, Desa Baleagung, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang.

Kasus pembunuhan ini berawal saat korban WS di nyatakan hilang dari rumahnya dan keberadaan WS tidak di ketahui sejak hari Rabu 3/8/22. Dari pihak keluarga sudah berusaha mencarinya, hingga menyebarkan foto WS di media sosial. Tetapi usaha tersebut gagal, sehingga keluarga memutuskan untuk melapor kepada polisi.

Sehari setelah menghilang, akhirnya keberadaan WS diketahui dalam keadaan tidak bernyawa di lokasi perkebunan teh milik warga, Kamis siang, 4/8/22. Pada jasad korban di temukan sejumlah luka, dan sebelum di temukan tewas, WS sempat izin kepada orang tuanya untuk pergi mengerjakan tugas bersama AI.

Dalam kasus ini polisi menetapkan satu orang yaitu AI sebagai tersangka pembunuhan, dia tega membunuh temanya sendiri yaitu WS. Kapolres Magelang, Mochamad Sajarod Zakun, mengatakan bahwa pihaknya sudah melakukan serangkaian pemeriksaan, termasuk dengan meminta keterangan saksi berjumlah 4 orang. Hingga polisi mendapat kesimpulan AI yang telah membunuh WS.

Sajarod menetapkan tersangka di perkuat dengan adanya CCTV yang memperlihatkan pelaku menjemput korban untuk pergi bersama. Dari hasil pemeriksaan akhirnya pelaku AI mengaku telah melakukan pembunuhan terhadap WS seorang diri.

Ia juga menyebutkan bahwa motif pembunuhan yang dilakukan AI terhadap WS adanya motif sakit hati, AI kesal karena ketahuan mencuri HP milik WS, sehingga AI merencanakan pembunuhan dengan mengajak korban kerja kelompok.

Menurut Sajarod, ada 2 pasal yang akan di sangkakan kepada AI, yaitu Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup atau 20 tahun dan pasal 80 ayat 3 UU RI tentang perlindungan anak, dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara dan denda 3 milyar.

Inilah bukti kegagalan pemerintah dalam mengatur problematika di dalam negeri. Karena aturannya dilandasi dengan sistem kapitalis dan pemikiran sekuler, sehingga banyak generasi muda terjerumus dalam berbagai tindak kriminal dan kemaksiatan.

Seharusnya sistemnya diganti dengan sistem Islam sehingga akan mencetak generasi muda yang berakhlak mulia dan Islami karena pemikiran, perasaan dan peraturannya satu, yaitu bersandarkan hukum syarak dan Islam.

Wallahu a’lam bi showab

Wiji Ummu Fayyadh, 
Kebumen

[LM, Hw]

Please follow and like us: