Taubatnya Debt Colector

Oleh : Betty Kusuma

 

Sepintas Arman mendengar isi ceramah yang menggema dari speaker masjid diseberang warung makan yang sedang ia singgahi.
Dalam Al Qur’an surah Al-Baqarah ayat 278 yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkanlah sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman.”

Arman adalah seorang debt colector, ia baru enam bulan menjadi pegawai di salah satu bank swasta. Karena sulitnya perekonomian saat itu menyebabkan perusahaan tempatnya bekerja dulu melakukan pengurangan pegawai, salah satu yang terkena imbasnya adalah Arman. Demi menafkahi istri dan dua anaknya, dia melamar ke sebuah bank swasta. Arman diterima sebagai debt colector.

Hari itu, karena tak sempat sarapan pagi di rumah, Arman mampir ke warung makan yang dekat dengan tempatnya bekerja.

Sejenak ia menghentikan menyuap nasi ke mulutnya, Arman berfikir setelah mendengarkan terjemahan ayat Al-Qur’an dari speaker Masjid.

Apa iya, gaji dari pekerjaan yang saya jalani sekarang ini termasuk dari hasil riba? Hati kecilnya menimbang-nimbang.

Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkan lah perang dari Allah dan rasulNya. Tetapi jika kamu bertaubat, maka kamu berhak atas pokok hartamu. Kamu tidak berbuat zalim (merugikan) dan tidak dizalimi (dirugikan).”

Ini lanjutan ayat yang tadi ya, para jamaah yang dimuliakan Allah,” lanjut suara seorang ustaz yang sedang memberikan ceramah di Masjid Jami’ seberang warung makan yang disinggahi Arman.

Astaghfirullahal’azim. Benarkah yang saya dengar tadi? Berarti saya harus berperang dengan Allah? Ah, mana mungkin bisa menang?” gumam Arman setelah selesai menyuap suapan terakhir makanannya.

Memang sejak beberapa hari terakhir, hati Arman mulai dihinggapi rasa iba kepada mereka yang mengambil kredit usaha rakyat. Semua orang yang ia datangi, sedang mengalami kesulitan dalam usahanya, dikarenakan pertumbuhan ekonomi yang lambat akibat pandemi.

Arman beberapa kali harus berhadapan dengan kreditur yang macet. Perlakuan kasar yang ia berikan kepada kreditur macet, diiringi cacian dan makian yang sering ia lontarkan karena keterlambatan membayar cicilan. Belum lagi tangisan pilu dari anggota keluarga yang ia sita asetnya, sering sekali ia abaikan demi melaksanakan tugasnya sebagai debt colector.

Hingga suatu hari Arman berhadapan dengan seorang ibu yang melontarkan sumpah serapah kepadanya karena Arman harus menyita seluruh aset anaknya yang terjerat kredit macet.

Semoga engkau diberi hidayah sebelum merasakan sesaknya dada karena uang riba ini!” ucap sang ibu dengan nada marah yang ditekan.

Arman sangat mengingat perkataan ibu tadi. Hingga akhir-akhir ini, Arman susah tidur, karena memikirkan perkataan ibu dari seorang kreditur macet, yang melontarkan sumpahnya.

Segera Arman meminum air putih yang sudah disediakan lalu membayar makanan yang sudah dimakannya. Buru-buru ia ingin bertemu ustaz yang sedang mengisi kajian di Masjid Jami’ tadi. Arman ingin kembali ke jalan yang benar. Sebab sangat lekat diingatannya bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang menunggak pembayaran cicilan ke bank.

Serta mengingat bagaimana rintihan juga tangisan anak dan istri seorang kreditur macet yang disita rumah serta aset-aset berharganya. Hati Arman sangat menyesali semua perbuatannya. Arman ingin bertemu dengan ustaz yang sedang berceramah tadi. Ia ingin bertaubat dan meninggalkan pekerjaan yang sedang ia geluti.

Arman segera memakai jaket lalu melajukan kendaraannya untuk menyeberang jalan. Ketika motor yang ia kendarai hampir sampai ke Masjid Jami’ yang dituju, tiba-tiba “duaarr” sebuah truk yang melaju dengan kecepatan tinggi tak bisa dikendalikan oleh supir truk akibat meletusnya ban. Tubuh Arman terpental ke sisi kanan jalan karena tersenggol truk lalu menghantam tembok pagar Masjid Jami’, motornya hancur terlindas truk.

Arman masih mendengar riuh suara orang-orang keluar dari dalam Masjid. Seorang yang memakai baju Koko berpeci putih mendekatinya.

Innailaihi wa innailaihi rojiun. Astaghfirullahal’azim. Ini korbannya masih bernapas, ayo segera dibawa ke rumah sakit!”

Mana, Ustaz?” Teriak orang-orang sambil mendatangi Arman.

Tak lama tubuhnya diangkat naik ke sebuah mobil ambulan. Tubuhnya seolah mati rasa, akan tetapi matanya masih bisa sedikit terbuka, telinganya juga masih bisa mendengar meski berkurang. Ia ditemani seorang yang memakai pakaian putih dan berpeci seperti yang ia lihat sebelumnya.

Pa … ak Us … taz ssa .. saya mau bertobat, ssaya mau berhenti jadi debt colecttor” suara Arman terbata-bata menahan sesak didada akibat menghantam tembok pagar Masjid.

Ma syaa Allah, alhamdulillah, Allah sudah memberikan anda hidayah. Semoga Allah menurunkan pertolonganNya. Semoga Allah memberikan kesehatan kembali kepada anda. Aamiin. Boleh tau nomor yang bisa dihubungi?” ucap Ustaz yang menemani Arman di ambulan.

Laki-laki yang menemani Arman segera menelpon seseorang. Diujung telepon terdengar suara wanita yang sangat Arman kenal. Istrinya menangis tersedu mendengar penuturan Ustaz disebelah Arman.

Lama kelamaan pandangan Arman mulai kabur, suara percakapan laki-laki disebelahnya dengan wanita yang sangat dicintainya perlahan hilang dari pendengaran.

Allaah” lirih suara Arman keluar dari mulutnya.

Ustaz disebelahnya menoleh ke arah Arman, kemudian berusaha menuntun Arman mengucapkan dua kalimat syahadat.

Asy … asyhaduallaa iillaa haillallah wawa asy haduanna muhammadar rosulullah.” Terputus-putus suara Arman menirukan suara Ustaz di sebelahnya. Tak lama, hanya keheningan yang menemani sang Ustaz di dalam ambulan.

Ustaz lalu mengarahkan telunjuknya ke hidung Arman. “Innalaillahi wainnailaihi rooji’un” ucap sang Ustaz.

Segera Ustaz mengontak kembali nomor yang diberikan Arman, mengabarkan bahwa Arman sudah tiada.

Please follow and like us:

Tentang Penulis