Allah Maha Luas Ampunan-Nya

Oleh: Atik Setyawati

 

Sudah menjadi tempatnya salah dan dosa, dialah manusia. Manusia si tukang lupa. Karenanya, supaya tidak lupa harus sering-sering mengaji. Mengaji itu dalam rangka mengingat-ingat kembali yang pernah dilupakan. Sebenarnya apa yang dilupakan dan harus diingat lagi? Ya, mengingat yang pastinya ia telah lupa. Pada saat ruh ditiupkan pada janin di dalam kandungan ibunda, seorang anak manusia mengakui bahwa Allah adalah rabbul’alamin dan dia adalah makhluk-Nya.

Jujur, pasti tidak ada yang ingat peristiwa itu. Tapi kita yakini itu ada. Kita ingat kembali di tengah pengajian dan mendengarkan nasihat ustaz. Ustaz yang senantiasa menuntun kita pada kemurnian tauhid dan bagaimana berislam secara kaffah lho, ya! Kita itu disuruh masuk Islam secara kaffah bukan secara radikal apalagi moderat. Catat! Yang lagi viral itu, lho, penceramah radikal. Ah, padahal yang ada kita itu masuk Islam ya sama Islamnya, bersyahadat dulu, yang disembah juga sama, kitab dan nabinya sama. Intinya berislam kaffah. Tanpa ada definisi radikal ataupun moderat. Siapa itu yang mengotak-kotak umat Islam dengan definisi itu? Kita yang lurus-lurus sajalah. Selama engkau masih bersyahadat, engkau saudaraku. Yap, saudara satu akidah, maksudnya.

Tinggal masalahnya adalah bagaimana kita mengamalkan ajaran Islam yang notabene kita kenal dengan istilah syariah. Orang yang beriman itu mesti menjauhi dosa-dosa besar, seperti: syirik, membunuh, berzina, dan lain-lain. Jangankan dosa besar, dosa kecil saja dilarang dan harus ditinggalkan apalagi dosa besar.

Memang benar bahwa Allah Subhanahu Wa Ta’ala itu Maha Pengampun. Tapi bukan berarti ketika melakukan amalan yang membawa dosa, kemudian tobat, diulangi lagi kesalahannya, tobat lagi, dan seterusnya. Bukan begitu, ya! Allah Mahatahu siapa yang benar-benar tobat atau yang berpura-pura tobat.

Karena manusia tempat salah dan lupa jadi manusia itu tidak boleh mengatakan dirinya suci bersih tanpa noda. Hanya Allah yang tahu bagaimana ketakwaan seorang hamba. Maka dari itu, kita harus senantiasa bertobat, mengucapkan istighfar setiap saat. Astaghfirullah aladziim.

Jadi, manusia memang tempatnya lupa. Tapi kalau selalu lupa, itu tak mungkin, itu pasti disengaja. Katanya, cukup satu kali berbuat salah, kalau diulang itu kebangetan. Tobat, mumpung masih ada waktu dan kesempatan untuk memperbaiki diri. Tak mengapa bila kemarin pernah berdosa. Hari ini hapus semua dosa dengan istighfar, mohon ampun pada Allah. Tobat sebenar-benar tobat tanpa ada maksud mengulanginya lagi. Ganti aktivitas yang menjurus pada dosa menjadi aktivitas yang berpahala. Allah akan menutup kesalahan di masa lalu. Berbahagialah bagi seseorang yang dapat melakukan tobat yang sebenarnya.

Jangan dibuka lagi aib atau kesalahan yang telah ditutup oleh Allah. Jadikan ia sebagai pelajaran hidup untuk menjadi hamba Allah yang taat. Perbanyak beramal saleh. Insyaallah, dosa di masa lalu diampuni dan diganti pahala akan kesungguhan bertobat.

Kita dapat memetik hikmah bahwa Allah Maha Luas ampunannya. Berapa banyaknya dosa yang dilakukan seorang hamba, ketika ia kembali pada Allah dengan penuh penyesalan, tidak ingin mengulanginya lagi, ia bertobat maka Allah akan mengampuninya.

Inilah kasih sayang Allah pada hamba-hamba-Nya.Jangan kita sia-siakan. Untuk larangan, kita hanya diminta untuk meninggalkannya, tidak melakukannya. Biarkan syetan dari golongan jin dan manusia lelah menggoda. Si Muslim yang bertakwa akan tetap berada pada jalan menuju keridaan Allah. Tiada kebahagiaan yang dapat melebihi selain rasa yakin bahwa Allah rida aktivitas ibadah kita. Yuk ngaji!

Wallahu a’lam bishshowwab.

Ibrah dari membaca firman Allah Swt., yang artinya:

(Yaitu) orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Rabb-mu Mahaluas ampunan-Nya. Dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikanmu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dia-lah Yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (TQS. An-Najm: 32)

[hw/LM]

Please follow and like us:

Tentang Penulis