Mengendalikan Sedih dan Marah karena Allah

Oleh: Atik Setyawati

 

Sahabat, bila sejenak saja kulalai, kau hadir memberiku peringatan. Sahabat, bila aku sedang gundah, kau hadir dan menghiburku. Kau ajak aku kembali mencerna peristiwa yang membuatku gundah dan bersedih. Kau tanyakan padaku, “Apakah pantas masalah seperti ini untuk kau tangisi lama-lama? Seberapa berharganya masalah ini, hingga engkau keluarkan air matamu untuk menangisinya?”

Dan aku terdiam, mencoba menyelami maksud perkataanmu, sahabatku.

“Tidakkah masalahmu ini juga terjadi pada orang lain karena kau bukan satu-satunya yang menerima masalah itu? Apakah pantas masalah itu membuatmu bersedih dan marah?” lanjutmu.

Benar juga, sejatinya masalah yang pernah menimpa seseorang pastinya pernah juga menimpa orang lain. Ya, jika orang lain bisa menyelesaikan masalah yang membuatnya gundah, mengapa aku tidak bersegera?

Sepertinya berlama-lama merasakan masalah itu ada keasyikan tersendiri. Betapa nikmatnya saat menangis, mengeluarkan beban yang terasa berat menghimpit. Marah pada yang telah menyebabkan bersedih.

Sahabat, kau benar, tak seharusnya berlama-lama dalam kondisi permasalahan pribadi sementara masih banyak masalah lain yang lebih meminta penyelesaian.

Gundah, sedih, marah, adalah manifestasi dari ghorizah baqo’. Yaitu, naluri mempertahankan diri. Ghorizah baqo’ ini muncul akibat rangsangan dari luar tubuh. Ia tidak harus dipenuhi. Jika tidak terpenuhi tidak sampai membawa kematian. Paling-paling merasa gelisah manakala ghorizah tidak terpenuhi sesuai kehendak. Eit, tidak harus lho, menuruti apa kata hati (ghorizah). Ia bisa dialihkan pada ghorizah yang lain. Rasulullah saw. bersabda yang artinya, “Bila salah satu di antara kalian marah saat berdiri, maka duduklah. Jika marahnya telah hilang (maka sudah cukup). Namun jika tidak lenyap pula maka berbaringlah.” (HR. Abu Daud)

Dari Urwah As-Sa’di, Nabi Muhammad saw. bersabda yang artinya, “Sesungguhnya marah itu dari setan, dan setan diciptakan dari api, dan api bisa dipadamkan dengan air. Apabila kalian marah, hendaknya dia berwudhu.” (HR. Ahmad dan Abu Daud)

Berdasarkan kedua hadis tersebut, kita mendapatkan pembelajaran bahwa marah sebagai manifestasi ghorizah bisa dialihkan. Bila marah dalam keadaan berdiri maka mengubah posisi dengan duduk, jika masih marah, ubah dengan berbaring. Harapannya dengan mengubah posisi dapat menghilangkan rasa marah itu. Bila masih marah juga, segera berwudhu dan salat. Ini berarti bahwa marah yang tadinya ghorizah baqo‘ dialihkan pada ghorizah taddayun (naluri mengagungkan sesuatu). Ketika salat dilaksanakan, kita akan merasa lemah dan tidak pantas untuk marah. Kita akan mengagungkan Sang Pencipta, memohon ampun dan meminta perlindungan pada Allah dari rasa marah maupun gundah.

Selain itu, menyadari bahwa memiliki sahabat yang baik adalah anugerah dari Allah SWT. Keberadaannya haruslah senantiasa disyukuri. Sahabat selalu ada saat suka maupun duka. Jangan biarkan sahabat berlalu karena kerasnya hati yang tidak mau menerima nasihatnya.

Ada yang lebih penting dalam mengukur rasa marah, artinya kapan saatnya marah dan mengapa kita marah.

Sebagai muslim, marah tentunya karena melihat kemungkaran yang ada di depan mata. Marah dan benci karena Allah SWT. Marah ketika ada yang sengaja meracuni umat dengan paham-paham yang menyesatkan. Marahnya tentu dengan terus gencar menyampaikan kebenaran Islam di mana saja, kapan saja. Tidak berpangku tangan terhadap permasalahan yang terjadi pada umat. Terus aktif mengkaji Islam agar memahami kondisi yang ada dan bagaimana mengatasinya.

Jadi, mana sempat bersedih, mana sempat gundah karena permasalahan pribadi. Ya, ketika menyibukkan diri pada permasalahan umat, tentunya lambat laun permasalahan pribadi akan teratasi. Tentunya dengan terus berdoa kepada Allah agar selalu diberi jalan terhadap setiap permasalahan yang menimpa. Memohon semoga senantiasa memiliki sahabat-sahabat yang mengajak pada kebaikan dan mengingatkan saat lalai. Mampu mengambil peran dalam perjuangan menegakkan panji Islam.

Wallohu a’lam bishshowab

Metro, 25 November 2021

 

[LM]

Please follow and like us:

Tentang Penulis