Oleh: Ummu Afif
(Malang)

 

Lensamedianews.com-Rasulullah Saw. telah bersabda dalam hadis yang diriwayatkan oleh Abi Barzah Al Aslami, “Jangan sekali-kali kamu bergunjing terhadap kaum muslimin. Dan jangan sekali-kali mencari noda/auratnya. Karena bagi siapa yang mencari-cari noda kaum muslimin, Allah akan membalas pula dengan membuka nodanya.”

Inilah dalil sekian abad yang lalu, yang sudah Rasulullah sampaikan. Namun fenomena yang terjadi saat ini telah berbalik 180 derajat. Dalam dunia maya, media sosial telah berhasil menjadi panggung dalam membongkar aib murahan, baik itu KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga), perselingkuhan, perceraian, dan masih banyak masalah pribadi lainnya.

Media kini telah menjelma menjadi saluran persoalan privasi yang seharusnya ditutup rapat. Berbagai pandangan negatif pun muncul dari netizen. Ada yang menuding cari sensasi untuk menaikkan pamor dengan isu yang kontroversial itu.

Memang dengan adanya media sosial, ada banyak segi positifnya bagi masyarakat, namun tidak sedikit juga segi negatifnya. Segi positifnya, masyarakat tidak ketinggalan adanya berita, bisa mendapat hiburan, belajar bisnis, dan lain-lain. Segi negatifnya, ada banyak tayangan yang tidak mendidik, seperti mengumbar aib, termasuk konflik suami istri dalam rumah tangga yang notabene adalah aib keluarga.

Media sosial pun kerap memiliki andil sebagai salah satu sebab bubarnya rumah tangga. Munculnya perselingkuhan, rasa saling curiga, perasaan cemburu, hubungan merenggang, bisa berawal dari kecanduan media sosial.

Tidak sedikit pasangan suami istri yang lebih suka curhat di media sosial dibanding mencari solusi dalam keluarga. Dari media sosial pula, banyak yang terhubung kembali dengan mantan di masa lalu. Tentu hal ini bisa memicu pertengkaran dalam rumah tangganya.

Selain itu, tidak sedikit yang membandingkan hidupnya dengan hidup orang lain di media sosial. Padahal apa yang ditampilkan di media sosial belum tentu sesuai kenyataan. Siapapun bisa melakukan manipulasi untuk membangun citra diri.

 

Kenapa semua ini bisa terjadi?

Jawabnya, karena kita hidup dalam sistem demokrasi sekuler yang berasas kebebasan alias liberalisme. Sistem inilah yang mendominasi platform media sosial. Masyarakat pun hanyut mengikuti gaya hidup bebas dan terbuka, termasuk bebas buka aib dan buka aurat.

Media sosial kini menjadi corong keburukan tanpa pengawasan dan filter. Penguasa juga seakan-akan buta dan tuli terhadap kerusakan moral rakyatnya akibat media sosial.

Tak terkecuali, para jurnalis ikut terseret arus hingga melenceng jauh dari apa yang layak disebut berita. Liberalisme banyak melahirkan media yang tak layak, tapi tetap ditayangkan demi meraup keuntungan. Di mana ada sesuatu bernilai viral, di situlah media ikut andil untuk mendapatkan cuan. Makin tenar, makin banyak mendapatkan keuntungan materi. Dan hal-hal berbau aib, tak terkecuali aib rumah tangga, adalah hal yang paling menarik perhatian.

Sementara dalam Islam, aib adalah privasi yang wajib di tutupi. Bila individu bertakwa, masyarakatnya pun bertakwa, maka mereka tidak akan mudah membongkar sisi pribadi kehidupannya. Kalaupun ada masalah dalam keluarga, bisa dibincangkan secara internal untuk mendapatkan solusi.

Dan negara pun berperan untuk mengendalikan media massa dengan melarang keras menampilkan informasi murahan yang tidak berguna.

Maka dari itu, sudah saatnya kita campakkan sistem demokrasi sekuler yang tabiatnya merusak, terutama merusak keluarga kaum muslim. Saatnya kita beralih kepada pengaturan yang sempurna demi kelangsungan hidup masyarakat yang saleh dan salehah di bawah sistem Islam kafah. Wallahu a’lam bish-shawwab. [LM/Ra]

Please follow and like us:

Tentang Penulis