Luka Palestina, Duka Muslim Sedunia

Palestina masih terluka karena ulah para penjajah, untuk kesekian kalinya zionis Israel menodai al-Quds, tempat suci dan kiblat pertama kaum muslimin. Ironisnya serangan terjadi pada sepuluh hari terakhir di bulan ramadan. Ketika kaum Muslim Palestina sedang berpuasa dan beri’tikaf, pasukan militer Israel menyerang jama’ah tanpa belas kasih. Kejadian bombardir Israel terhadap Palestina sungguh perbuatan yang harus dilawan. Kita sebagai umat Islam tidak boleh tinggal diam. Setidaknya kita ada andil untuk membela kaum Muslim.

Korban pun berjatuhan, tak hanya laki-laki bahkan bayi dan perempuan. Jumlah yang luka tak terhingga, korban syahid pun tak sedikit. Bantuan obat dan makanan berdatangan. Kecaman, sumpah serapah dan aksi terjadi di berbagai negeri. Sejumlah kepala negara mengirim bela sungkawa, meski ada juga yang menganggap bukan urusan bangsanya.

Padahal, sejatinya Palestina adalah milik kaum muslimin sedunia. Tanah suci yang dibebaskan oleh Abu Ubaidah bin Jarrah pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Uskup Agung al-Quds, Monofisit Sophronius menyerahkan kunci kota Palestina secara sukarela kepada Khalifah Umar (636 M). Kemudian terjadi penandatanganan perjanjian Umar yang salah satu isinya melarang orang Yahudi untuk tinggal atau bermalam di al-Quds. Dengan demikian, Palestina menjadi milik kaum Muslim hingga akhir zaman.

Bermodalkan perjanjian Sykes-Picot (1916), pada tahun 1947 PBB mendukung pembagian tanah Palestina menjadi dua, sebagian untuk Yahudi dan sebagian lagi untuk bangsa Arab. Inilah awal malapetaka yang kemudian membuat zionis Israel semakin menggila. Mereka merampas hampir 90 persen wilayah Palestina. Dengan dalih mencari keberadaan the tample of Solomon, zionis menghancurkan komplek masjid suci Al-Aqsha.

Jelaslah bahwa masalah Palestina bukan semata kemanusiaan, sengketa lahan ataupun rebutan peran. Akan tetapi karena hal yang sangat mendasar yakni Aqidah. Al-Qur’an sudah mengabarkan bahwa sampai kapan pun mereka (Yahudi dan Nasrani) tidak akan rida hingga kita (Muslim) mengikuti ajaran (millah) mereka. Maka tak berguna perjanjian damai bahkan gencatan senjata sekalipun. Apalagi hanya mengandalkan PBB yang jelas-jelas sedari awal merestui berdirinya Israel. Palestina hanya akan selesai dengan pembebasan sebagaimana awal masuknya Islam ke sana.

Hanah Ummu Isma
Bantul

[LM/Hw]

Please follow and like us:

Tentang Penulis