Waspada, Aliran Agnostik Mengintai Millenial

Oleh Nabila Zidane
(Forum Muslimah Peduli Generasi dan Peradaban)

 

Lensa Media News – Pernah dengar aliran Agnostik nggak? Apaan tuh?
Melansir dari Stanford Encyclopedia of Philosophy, istilah “Agnostik” dan “Agnostisisme” diciptakan pada akhir abad ke sembilan belas oleh ahli biologi Inggris, T.H. Huxley. Huxley mengatakan bahwa dia menemukan kata “Agnostik” untuk menunjukkan orang-orang yang seperti (dirinya) mengaku sangat tidak peduli tentang berbagai hal, yang di dalamnya para ahli metafisika dan teolog, baik ortodoks maupun heterodoks, melakukan dogmatisasi dengan sangat yakin termasuk tentang keberadaan Tuhan.

Secara terminologi, Agnostik adalah orang yang memiliki pandangan bahwa ada atau tidaknya Tuhan adalah hal yang tidak dapat diketahui. Agnostisisme tidak menyangkal keberadaan Tuhan secara mutlak. Mereka beranggapan bahwa keberadaan Tuhan adalah sesuatu yang tidak mungkin dapat dinalar oleh akal manusia, dan konsekuensinya adalah keberadaan Tuhan tidak dapat diketahui dengan cara apa pun.

 

Cara Pandang Orang Agnostik

Orang Agnostic akan percaya keberadaan Tuhan manakala kita bisa membuktikannya secara akal dan ilmiah. Kalaupun ada Tuhan, maka para penganut Agnostik ini percaya bahwa Tuhan hanya satu dan gak ada agama yang membedakannya.

Mereka lebih suka menjadi orang yang meyakini Tuhan tanpa amalan agama. Orang zaman sekarang pun merasa lebih intelektual, lebih berwawasan kalau dia mengaku sebagai penganut Agnostik.

Bagi mereka, orang yang taat beragama dipandang nggak menarik, kolot dan menelan mentah-mentah doktrin agama. Mereka juga memandang kalau orang beragama sering menampakan perilaku yang kurang bersahabat dengan sesama seperti nggak toleran, saling mencaci, saling membenci, saling menghina serta saling menyakiti. Bahkan, orang beragama saling serang dan baku hantam karena alasan agama.

Mereka menganggap bahwa agama cuma perusak kepercayaan. Cukuplah kita ber Tuhan, berbuat baik kepada sesama tanpa embel-embel agama.

 

Fungsi Akal Manusia

Coba renungkan gaes, sebagai seorang Muslim kita tentu memahami bahwa Allah Swt. telah menciptakan manusia lengkap dengan tuntunannya agar tidak tersesat hidup di dunia.

Allah Swt. juga memberi potensi kehidupan bagi manusia salah satunya adalah potensi akal disamping kebutuhan jasmani dan naluri.

Dengan akal inilah yang akan kita gunakan untuk memahami dan merenungi tanda-tanda kebesaran Allah Swt. sebagai satu-satunya pencipta yang benar dan Islam sebagai agama yang diridai oleh Allah Swt. Dengan akal inilah kita akan menjadi orang yang beriman ataupun tidak beriman.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.” (QS. Al-Baqarah: 164)

Dan juga di dalam Al-Quran Surat Thaha ayat 14

إِنَّنِىٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعْبُدْنِى وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكْرِىٓ

“Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku”

Allah Swt. menciptakan manusia beserta akal untuk berpikir, memahami ayat-ayat Allah dan beriman kepada-Nya bukan malah berbuat kegayaan sok kritis, mikirin sesuatu yang sudah pasti, mikirin ilmu Allah yang sangat luas di luar batas nalar manusia yang serba terbatas dan lemah ini. Takutnya kalau nggak nemu jawaban sesuai akalnya malah memilih jadi Agnostik, Na’udzubillah.

Nah begitulah gaes kalau kita nggak menggunakan akal kita dengan benar. Kita bisa musyrik, kufur atau tersesat. Sudah pada tahu kan di mana tempat yang kekal buat orang musyrik dan kafir? Ya, di Neraka jahanam.

Oleh karena itu, sudah seharusnya kita gunakan akal untuk menaati Allah Swt. dan menjalankan semua syariat-Nya tanpa syarat secara totalitas. Itulah gaes mengapa kita penting mengkaji Islam secara kafah bersama kelompok dakwah Islam ideologis agar kita paham syariat dan mempunyai pedoman dalam menjalani hidup serta tidak terjebak pada berbagai aliran yang menyesatkan seperti Agnostik ini. [LM/Mi]

Please follow and like us:

Tentang Penulis