Menatap Wajah Islam di Negeri Muslim

IMG-20201015-WA0063

Oleh : Isnawati
(Muslimah Penulis Peradaban) 

 

Lensa Media News – Islam memiliki standar yang valid dan akurat dalam menilai sebuah pandangan dan pendapat. Kebenaran tidak dibatasi oleh masa dan tempat tertentu. Siapapun wajib menyampaikan kebenaran termasuk menyampaikan sejarah. Standarisasi kebenaran Islam sangat jelas, yaitu AlQuran dan As-sunah agar tidak timbul berbagai asumsi dan opini-opini yang menyesatkan dalam beragama, salah satunya adalah mengenai sejarah penaklukan Konstantinopel.

Dinas Pendidikan (Disdik) Provinsi Bangka Belitung (Babel) membatalkan surat yang berisi mewajibkan siswa SMA atau sederajat membaca buku ‘Muhammad Al Fatih 1453’ yang ditulis Felix Siauw. Lembaga Pendidikan Ma’arif Nahdlatul Ulama Bangka Belitung menyayangkan dan mengkritik keras apa yang dilakukan oleh Dinas Pendidikan Provinsi Babel.

“Di dalam buku ini ada penggiringan, bukan sejarah asli. Isinya membangkitkan khilafah Islamiyah ala HTI,” kata Ketua PW Nahdlatul Ulama PWNU Bangka Belitung, KH Jaafar Siddiq, saat ditemui detik.com di pondok pesantrennya pada Jumat (2/10).

Penolakan sejarah penaklukan Konstantinopel yang ditulis Felix Siauw dianggap punya misi terselubung. Anggapan tersebut sangat subyektif sebab sejarah tersebut benar adanya. Muhammad al-Fatih dilahirkan di Edirin pada 30 Maret 1423 M. Pada waktu itu, Edirin adalah pusat kota pemerintahan Khilafah Turki Utsmani.

Mendapat julukan al-Fatih (sang penakluk) karena telah berhasil menaklukkan Konstantinopel pada saat masih berusia 21 tahun. Tak hanya itu, pada usia yang masih belia, al-Fatih sudah mempunyai kepakaran dalam bidang ketentaraan, sains, matematika & menguasai 6 bahasa.

30 tahun beliau memerintah, selain menaklukkan Bizantium, beliau juga berhasil menaklukkan wilayah-wilayah di Asia, menyatukan Anatolia dan wilayah-wilayah Eropa. Rentetan penaklukkan strategis dilakukan oleh Muhammad al-Fatih dengan membawa pasukannya sampai ke Balkan, Yunani, Rumania, Albania, Asia Kecil, dll. Beliau pun telah menyiapkan pasukan dan mengatur strategi untuk menaklukkan kerajaan Romawi di Italia. Akan tetapi Sang Pencipta lebih dulu memanggilnya. Beliau wafat di tengah pasukannya pada hari Kamis, tanggal 4 Rabiul Awal 886 H/3 Mei 1481 M dalam usia 52 tahun.

Dari membaca sejarah, pasti ada ibrah dan motivasi, serta kebanggaan yang luar biasa bahwa Islam pernah berjaya. Mengupayakan agar kejayaan Islam kembali berjaya adalah sebuah kewajiban bagi seluruh umat Islam. Hanya orang-orang yang takut kehilangan kekuasaan, yang tidak mau mempelajari sejarah Islam apalagi mengupayakan kembalinya kejayaan Islam. Mereka akan terus menggaungkan berbagai narasi jahat. Mereka takut akan munculnya kekuatan adidaya baru, yang akan menghancurkan tatanan politik sekuler hari ini.

Keampuhan syariat Islam dalam melindungi dan menyejahterakan rakyat sudah terbukti selama 1300 tahun. Khiilafah telah berhasil menaungi dunia Islam dan menyatukan mereka. Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Hanya dengan khilafah, rahmat bagi seluruh alam bisa terwujud. Maka, tidak perlu takut dengan sejarah Islam! Menolak sejarah Islam, berarti telah masuk dalam perangkap deradikalisasi. Padahal, narasi deradikalisasi, hakikatnya adalah jalan untuk memuluskan penjajahan.
Berbagai kebijakan deradikalisasi harus ditolak! Pendidikan harus mengarah pada tujuan ideal, yaitu membentuk output pendidikan yang mumpuni di bidang sains dan memiliki kepribadian Islam yang khas dan kokoh seperti yang dicontohkan Muhammad al-Fatih. Generasi muda hari ini harus segera bangkit menyadarkan umat, mewujudkan perubahan hakiki.

Negeri ini sudah lama menghamba dan menjadi pengekor asing, sudah saatnya menjadi bangsa yang mandiri dan kuat. Peradaban Islam yang luhur ada dalam genggaman generasi muda bersamaan dengan diterapkannya syariah dalam bingkai khilafah ‘ala min hajjin nubuwah.

Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, tetapi Allah menolaknya, malah berkehendak menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir itu tidak menyukai.” (QS. At-Taubah: 32).

Wallahua’lam bishawwab.

 

[lnr/LM] 

Please follow and like us:

Tentang Penulis