Nuklir Corona di Tengah Keindahan Negeri Zamrud Khatulistiwa

Oleh: Elfia Prihastuti, S.Pd
(Praktisi Pendidikan dan Member AMK)

 

Lensa Media News – Indonesia, negeri berjuta pesona di berbagai sudut alamnya. Laut, gunung, hutan, danau, sungai, air terjun, dan gugusan pulau lainnya. Bahkan dikenal sebagai zamrud khatulistiwa. Begitu pula dengan budaya yang melekat pada masyarakatnya yang mengundang daya tarik luar biasa.

Wajar jika para penguasa negeri tergiur untuk memanfaatkannya sebagai penarik pundi-pundi rupiah. Memasuki new normal, sektor industri pariwisata yang merupakan salah satu sektor terdampak, mulai berbenah untuk menyesuaikan diri. Mengatur strategi dan langkah yang harus ditempuh untuk beradaptasi dengan new normal.

Saat ini, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) tengah menggodok mengenai protokol kesehatan dalam pariwisata. Menparekraf, Wishnutama menggandeng Pemerintah Provinsi (Pemprov) Bali untuk merumuskan dan menguji coba protokol tersebut. Ia juga menyampaikan, pembukaan kembali pariwisata akan dilakukan secara bertahap setelah memastikan protokol sudah siap dilaksanakan (Detik.com, 16/5/2020).

Pemerintah berencana meningkatkan jumlah turis domestik di masa new normal. Sebab, pandemi Covid-19 ini membuat turis manca negara memilih berwisata di negara asalnya. Salah satu cara, dengan mengampayekan destinasi wisata lokal dengan menggunakan tagar tertentu di sosial media dan memberikan potongan harga bagi turis ber-KTP lokal.

Beberapa daerah pun mulai ancang-ancang untuk membuka destinasi wisata lokal. Pemerintah Provinsi Bali bersiap membuka sektor pariwisatanya pada Agustus. Wisata Pantai Parang Tritis juga telah berusaha memenuhi persyaratan agar obyek wisata itu bisa dibuka mengacu pada protokol kesehatan yang telah ditetapkan Kementerian Kesehatan.

Baturraden sebagai salah satu destinasi wisata di wilayah Jawa Tengah, juga siap membuka pintu bagi wisatawan yang ingin datang berkunjung dengan protokol-protokol ketat yang harus diterapkan, baik bagi pengelola tempat wisata maupun wisatawan, seperti wajib menggunakan masker, wajib cuci tangan, dan jaga jarak.

Bahkan Jawa Timur, sebagai penyokong korban Covid-19 terbanyak di negeri ini juga sudah mulai menyusun skema new normal di sektor pariwisata. Bukan hanya itu, satu kabupaten di Jatim juga ditunjuk pusat sebagai model reopening stage tourism di era new normal. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pembatasan kuota pengunjung, paling tidak hanya 50 persen pengunjung.

Padahal membuka kembali sektor pariwisata di saat kurva Covid-19 belum melandai mempunyai risiko tinggi. Hal ini pun diakui Presiden Joko Widodo. Begitu ada imported case kemudian ada dampak kesehatan maka citra pariwisata yang buruk itu akan bisa melekat dan akan menyulitkan untuk memperbaikinya (Tirto.id, 28/5/2020).

Meski begitu, pemerintah berkukuh pariwisata akan dibuka saat fase new normal atau tatanan kehidupan baru dimulai. Inilah penerapan sistem Kapitalisme. Hanya berorientasi untuk meraup materi. Tidak memikirkan konsekuensi dari penerapan sebuah kebijakan walaupun mempertaruhkan keselamatan dan nyawa manusia.

Sejatinya, dibukanya sektor pariwisata memenuhi desakan para pengusaha pariwisata yang banyak merugi akibat pandemi Covid-19. Padahal membuka pintu destinasi pariwisata dengan protokol social distancing tidak akan berjalan efektif mengingat sulitnya tempat wisata menghindar dari kerumunan.

Kondisi ini sama halnya menghadapkan para pengunjung pada nuklir corona yang siap untuk ditembakkan tanpa disadarinya. Wajar jika hal ini dipaksakan dalam sistem Kapitalisme, sebab sektor pariwisata merupakan salah satu penyokong ekonomi negara.

Walaupun sebenarnya kondisi kekayaan alam negeri ini jika dikelola dengan benar dan mandiri akan menjadi sumber dana yang cukup besar melebihi keuangan yang dihasilkan sektor pariwisata. Bahkan bisa menyerap banyak tenaga kerja. Namun apa lacur, pengelolaan sumber pemasukan besar negara tersebut diserahkan pada pihak asing dan swasta.

Dalam Islam, berwisata adalah upaya mendekatkan diri pada Allah Swt dan membangun keakraban keluarga dengan tetap memperhatikan syariat. Namun di masa pandemi seperti saat ini, kegiatan tersebut tidak akan dilakukan.

Seharusnya pemerintah lebih fokus pada pencegahan penyebaran wabah dan penanganan mengatasi wabah. Kemudian mengisolasi pasien terinfeksi dan menyembuhkannya, memenuhi kebutuhan pokok. Serta melakukan penelitian guna menemukan vaksin dan mengadakan penyuluhan guna mencegah meluasnya wabah.

Tempat-tempat pariwisata seharusnya ditutup, sebab pendapatan dari sektor pariwisata sebenarnya tidak cukup untuk memperkuat ekonomi negara. Pengelolaan sumber daya alam adalah sebaik-baik harta yang menjadi kepemilikan umum. Hasilnya akan dipergunakan sepenuhnya untuk memenuhi kebutuhan rakyat dan penanganan wabah sekaligus menciptakan lapangan pekerjaan. Terserapnya banyak orang dalam lapangan pekerjaan akan secara otomatis memperkuat perekonomian negara.

Wallahu a’lam bishshawab.

 

[ah/LM]