Meraih Takwa di Tengah Wabah Corona

Tahun ini, Ramadan datang tak seperti biasanya. Ramadan datang ketika dunia sedang mengalami pandemi global karena virus Corona. Seperti diketahui, virus ini telah menginfeksi di hampir lebih dari 200 negara di dunia. Hal ini mengakibatkan kondisi ekonomi kian buruk, PHK terjadi di berbagai perusahaan. Kondisi sosial pun tak berbeda jauh. KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) meningkat tajam disertai depresi dan tingkat kriminalitas yang meluas.

Suka cita menyambut Ramadan pun terasa berbeda. Masyarakat masih dalam masa karantina, merasakan kesedihan dan kepiluan, social distancing yang berefek pada ketentuan larangan berkumpul termasuk dalam shalat tarawih pada malam-malam Ramadan, membuat hati kaum muslimin terasa berat dan pilu.

Namun, inilah momen untuk bermuhasabah, mengapa pandemi ini terjadi. Pentingnya bermuhasabah telah Allah perintahkan dalam alquran, bahwa manusia senantiasa lalai dan melakukan kesalahan. Pandemi harusnya menjadi lecutan untuk diri kembali kepada Allah Azza wa Jalla dan memaksimalkan penghambaan kepadaNya sebagai bekal untuk kehidupan di dunia dan di akhirat.
Allah SWT berfirman :
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan” (Q.S. AL Hasyr: 18).

Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini dengan menyatakan bahwa hendaknya manusia menghisab (menghitung-hitung amalnya) dirinya sendiri sebelum Allah yang menghisab dirinya. Hendaknya pula manusia melihat dan memperhatikan bekal dan tabungan amal salih yang akan dibawa ke hadapan Rabbnya. Bahkan, Allah memberikan penegasan kepada manusia dua kali dalam ayat ini untuk selalu bertakwa kepada-Nya yang mencakup pelaksanaan semua perintah-Nya dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Corona telah membuktikan betapa manusia itu lemah. Manusia tidak mampu melawan mahluk kecil tak terlihat seperti Corona. Maka apa yang bisa disombongkan oleh manusia. Jika Allah telah menurunkan bala’Nya, tak seorangpun berkutik dan kuasa melawannya, baik dia raja, pemimpin, orang kaya, semua harus tetap berdiam diri di rumah-rumah mereka untuk menghindari virus ini.

Negara maju sekelas AS dan China pun luluh lantah oleh makhluk super kecil ini. Bahkan di Amerika Selatan, Equador melaporkan kematian dalam dua minggu mencapai 6000 orang. Jika kita mau merenung akan firman Allah SWT:
Telah Nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia. Allah menghendaki agar mereka merasakan sebahagian yang lain (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar” (Ar Ruum:41).

Lihatlah betapa kerusakan telah merajalela di muka bumi, perbuatan liwath (homoseksual) sudah menjadi hal biasa bahkan menjadi budaya. Kecurangan dan penipuan menjadi perilaku yang dimaklumi. Seks bebas, perdagangan manusia, pembantaian dan pembunuhan, riba dan zina disistemkan. Di sisi lain kaum muslimin terus dibantai dan dibunuh, para ulama dan pengemban dakwah terus dikriminalisasi dan dipersekusi.

Begitu rusaknya dunia hari ini hingga alampun begitu marah, gunung Merapi siap meletus, asteroid siap menghantam bumi, Wallahi kurang rusak bagaimana lagi? Oleh karena itu, diperlukan perubahan di bulan istimewa ini agar pandemi lekas berakhir. Negara yang memiliki institusi yang paling lengkap selayaknya menjadi komponen utama perubahan.

Islam telah memberikan panduan tentang penanganan pandemi ini. Karena pada zaman Rasulullah saw, pernah terjadi wabah. Apa yang dilakukan Rasulullah menjadi hukum syara bagi ummatnya.

Rasulullah SAW telah menuntun “Jika kamu mendengar wabah di suatu tempat maka janganlah kamu memasukinya. Dan jika terjadi wabah di tempat kamu berada maka jangan tinggalkan tempat itu.”

Sekitar 14 abad yang lalu Islam telah menuntun ummat jika terjadi wabah. Lockdown menjadi langkah utama untuk menangkal wabah. Negara wajib memenuhi kebutuhan dasar masyarakat selama masa lockdown sehingga tidak terjadi kelaparan di mana-mana. Hal ini dilakukan negara sebagai kewajiban, baik bagi warga yang miskin maupun kaya.

Sayangnya, kebijakan lockdown tidak diambil oleh pemerintah. Meski begitu, kelaparan mulai terjadi dimana-mana. Rakyat mulai merasa kesulitan memenuhi kebutuhan hidup mereka. Di sisi lain, laju penyebaran virus belum juga berhasil dibendung.

Sudah selayaknya di bulan Ramadan ini kita kembali kepada alquran dan Sunnah. Ketaqwaan harus menjadi inti dari puasa kita. Takwa berarti ketaatan kepada seluruh hukum Allah tanpa pilah-pilih, ketaatan pada hukum Allah tanpa tapi.

Ramadan tahun ini, haruslah menjadi momen muhasabah diri, mengapa musibah demi musibah tak berkesudahan. Ramadan tahun ini saatnya kita menyadari, ternyata arogansi manusia yang enggan mengikuti aturan Allah, kondisi umat kian terpuruk di segala dimensi. Termasuk dalam penanganan wabah yang terkesan amburadul. Dengan demikian Ramadan tahun ini, haruslah menjadi titik tolak perubahan diri dan juga umat, untuk kembali ke jalan ilahi. Saatnya untuk bertaubat dan kembali menerapkan hukum-hukum sang pencipta, yaitu Islam Kaffah yang terbukti mampu menjadi solusi paripurna atas segala persoalan manusia termasuk dalam penanganan wabah.

Wallahu’alam bishawab.

 

Ustadzah Cita Asih Lestari, S.Pi

 

[lnr/LM] 

Please follow and like us:

Tentang Penulis