Investasi Akhirat Lewat Tulisan

Oleh: Sulis Dwi

 

Menulis merupakan salah satu sarana komunikasi yang berbeda dengan komunikasi lisan. Penyampaian informasi dalam komunikasi tertulis bisa lebih lengkap, sistematis dan terarah. Berbeda dengan komunikasi lisan yang tidak jarang keluar dari koridor dan tidak lengkap. 

Walaupun sama-sama kegiatan komunikasi, namun menulis memiliki karakteristik tersendiri. Karya tulisan seseorang merupakan alur pemikiran mendalam dan komprehensif atas suatu permasalahan yang dipikirkan atau diteliti. Selain itu, menulis dapat meningkatkan konsentrasi, sebab indera kita diajak fokus pada satu titik tertentu.

Dengan menulis kita diajarkan untuk konsisten dalam mencapai apa yang diinginkan, menajamkan semua insting dan indera kita untuk menghasilkan sebuah tulisan. Saat aktivitas menulis terjadi, otak berada dalam keadaan fokus sehingga hormon yang bersifat negatif bagi tubuh tidak bekerja.

Sebuah jurnal bidang personality mengungkapkan bahwa jika kita sering menulis hal-hal positif selama lebih kurang 1 bulan maka secara otomatis mood kita akan terasa lebih baik dan tentunya level kesehatan kita akan membaik.(https://www.kompasiana.com/)

Kata Pramoedya Ananta Noer, menulis itu bekerja untuk keabadian. Dengan menulis, maka seseorang akan terus ada sekalipun jasadnya sudah dipendam tanah. Ia senantiasa hidup berkat karya-karyanya. Keabadiannya terletak pada karya-karya tulisannya yang dibaca banyak orang, yang pada akhirnya mengalirkan pahala kebaikan bagi si empunya tulisan. Pemikiran-pemikiran mereka dapat terus kita nikmati untuk diambil saripati hikmahnya sekalipun mereka telah tiada. (https://www.kompasiana.com/)

Ali bin Abi Thalib RA pernah berkata “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya“. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa ilmu tidak selayaknya hanya diketahui oleh diri sendiri, namun juga harus disebarkan kepada orang lain. Para ulama terdahulu menginfaqkan harta, waktu dan pikiran untuk mengikat ilmu agama dengan menghimpunnya menjadi buku dimana hal tersebut merupakan sedekah intelektual dan menjadi sesuatu yang patut diteladani.

Menulis sama saja dengan membangun peradaban, karena dengan menulis kita meninggalkan apa yang akan dibaca oleh peradaban setelahnya. Sebuah karya yang lahir dari pemikiran yang menembus ruang dan waktu. Konsekuensi untuk menghasilkan karya yang besar adalah dengan banyak membaca.

Maka, dalam Alquran kita temukan ayat pertama yang turun adalah iqro‘. Bacalah! Allah Subhanahuwata’ala menyuruh umatnya untuk membaca. Dengan membaca, maka kita menjadi tahu. Saat kita tahu, maka kita bisa menyampaikannya kepada orang lain. Kita menyelamatkan orang dari yang tidak tahu menjadi tahu, maka sama saja kita telah menyelamatkan peradaban (dari tidak tahu menjadi tahu).

Jika kita berhasil menyentuh hati orang dengan kata-kata yang kita tulis, maka bisa dikatakan kita telah menjadikan kegiatan menulis kita sebagai media dakwah. Menulis juga menjadi bagian dalam memperjuangkan syiar Islam dimana sejatinya kita sedang mengerjakan amal yang tiada putusnya.

Dalam sebuah hadist, yang sudah populer di kalangan masyarakat, menyebutkan bahwa diantara amalan yang terus mengalir meskipun orangnya sudah meninggal dunia adalah amal jariyah. Mengikat ilmu dengan menulis adalah sebuah investasi akhirat bagi penulisnya. Rugi rasanya kalau kita tidak mengambil bagian dari dakwah bil qalam berdakwah melalui pena.

Wallahu a’lam.

 

[ln/LM] 

Please follow and like us: