Melawan Narasi Busuk yang Membius Umat

Oleh: Puji Ariyanti
(Ibu dan Pemerhati Generasi)

 

LenSaMediaNews– Pemerintah tidak menganggap Ijtima Ulama IV yang salah satu rekomendasinya mewujudkan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) syariah sesuai Pancasila. Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Moeldoko mengatakan yang berlawanan dengan Pancasila harus dilawan. (Detiknews, 7/8/’19)

Ungkapan Kepala Staf Presiden Moeldoko tersebut merupakan gambaran seorang penguasa yang memiliki pemikiran naratif terhadap syariatnya Allah. Mensejajarkan Pancasila dengan Syariat Allah. Bahkan, Syariat Islam kedudukannya tidak lebih tinggi dari Pancasila yang merupakan hasil dari narasi manusia. Sehingga yang berlawanan dengan Pancasila harus dilawan.

Teriakan lantang mereka dalam menolak Syariat Islam dalam bingkai Khilafah adalah narasi busuk yang ingin tetap dipertahankan di negeri ini, agar kapitalis-sekuler tetap eksis dan memunculkan stigma negatif terhadap Islam itu sendiri.

Para pengemban demokrasi selalu mendakwahkan bahwa sistem demokrasi mampu membawa kemaslahatan. Jika ada keburukan dalam sistem ini hanya karena manusianya bukan demokrasinya. Dan sayangnya sebagian besar umat Islam terbuai dengan janji-janji tersebut.

Ormas yang mengusung Khilafah harus dialienasi, agar masyarakat apatis terhadapnya. Dimunculkan fakta kalau mereka berlawanan dengan karakter masyarakat Indonesia. Dinarasikan NKRI sudah Islami, pungkas Ridlwan Habib selaku Analis Intelijen dan Keamanan. (Gatra.com, 10/8/’19)

Kontranya seseorang terhadap syariat Allah adalah sesuatu yang wajar apabila ia hanya mengetahui bahwa Islam sebatas mengatur masalah ibadah ritual. Padahal lebih dari itu, Allah menurunkan Islam sebagai agama sekaligus ideologi. Di mana, ideologi merupakan seperangkat aturan yang mengatur seluruh aspek kehidupan terkait habl minallaah, habl minannas, dan habl minannafs. Ketiga dimensi itu adalah bukti bahwa Allah tidak main-main menyayangi hamba-Nya.

Hakikat setiap muslim wajib meyakini bahwa Allah adalah Al-Khaliq (pencipta), karena Allah menciptakan seluruh jagat raya ini. Sudah sewajarnya Dia juga menyandang status Al-Mudabbir (pengatur) bagi kehidupan ini.

Sehingga, ketika syariat Islam diterapkan secara kaffah (menyeluruh) tidak layak manusia yang merupakan ciptaan-Nya menolak bahkan menghardiknya sedemikian rupa. Padahal ketika Syariat Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan, akan mendatangkan kemaslahatan bagi manusia di berbagai aspek. Kemaslahatan ini tentu saja tidak dapat terwujud dalam sistem demokrasi.

Syariat Islam sangat sulit diterapkan apabila musuh Islam selalu menstigma Islam dengan stigma negatif dengan menyebarkan isu terorisme dan radikalisme, serta menyebarkan virus islamophobia di tengah tengah umat. Sehingga sikap alergi akan muncul dalam diri umat Islam terhadap kata Syariat.

Anton Tabah Digdoyo selaku Dewan Pakar Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) meminta, agar aparat negara diminta tidak alergi dengan istilah syariah. Apalagi sampai menuduh syariah Islam bertentangan dengan Pancasila dan bisa disangka sebagai makar. (Moeslimchoice, 10/8/’19)

Hakikatnya syariat Islam akan menjamin terjaganya setiap individu yang dibutuhkan umat manusia. Antara lain: Islam akan senantiasa menjaga agama (hifd al-din), keturunan (hifd al-nasl), harta (hifd al-mal), nyawa (hifd al-nafs), akal (hifd al-aql),  kehormatan (hifdh al-karaamah), Keamanan (hifdh al-amn) serta akan menjaga Negara (hifdh ad-daulah).

Syariat Islam adalah pedoman hidup. Maka, berhukum dengan hukum Allah adalah sebuah kewajiban yang disyariatkan bagi hamba-hambaNya baik menyangkut aqidah, ibadah, akhlak maupun muamalah. Namun demikian, masih banyak orang-orang yang melanggar perintah dan larangan Allah SWT. Mereka tidak menjadikan Islam yang tertuang dalam Alquran sebagai pedoman hidup, namun hanya hawa nafsulah yang menguasai kehidupan mereka.

Allah SWT berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (Al-Isra’:9).

Sangat disayangkan, bila mengaku diri seorang muslim tetapi tidak mau diatur oleh syariat Islam. Sudah seharusnya jika seorang muslim  wajib taat kepada Allah SWT secara totalitas. Tidak dibenarkan memilih sebagaian syariat dilaksanakan yang lain diabaikan.

Oleh karena itu, umat Islam tidak pantas alergi terhadap Syariat. Islam adalah solusi untuk menyelesaikan berbagai problema yang terjadi di tengah umat. Problema yang terjadi di kalangan masyarakat saat ini tidak bisa diselesaikan oleh masing-masing individu, tetapi harus diselesaikan oleh negara dengan cara menerapkan syariat Islam secara kaffah. Syariat Islam adalah solusi, maka jangan alergi.

Dan kaum muslim harus segera kembali pada sistem Islam, yang jelas-jelas bersumber dari Allah Swt sehingga kemuliaan kaum muslim di dunia maupun di akhirat bisa teraih.

[]Wallahu’alam Bisshawab[]

 

[Lm/Hw/Fa]

Please follow and like us:

Tentang Penulis